Kepala BPS Suhariyanto. Foto : MI/M.Irfan.
Kepala BPS Suhariyanto. Foto : MI/M.Irfan.

BPS: Defisit Neraca Dagang Desember 2019 Membaik

Ekonomi perdagangan
Husen Miftahudin • 15 Januari 2020 16:21
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mengklaim defisit neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2019 mengalami perbaikan signifikan. Pada Desember 2019 defisit neraca perdagangan sebesar USD28,2 juta atau membaik ketimbang defisit neraca dagang November sebesar USD1,33 miliar.
 
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan jumlah impor RI pada Desember 2019 sebesar USD14,50 miliar, sementara total ekspornya sebanyak USD14,47 miliar. Defisit dagang ini disebabkan oleh defisit sektor minyak dan gas (migas) sebesar USD971,3 juta meski sektor nonmigas mencatatkan surplus sebesar USD943,1 juta.
 
"Pada Desember 2019 ini terjadi defisit, tetapi defisitnya tipis sekali dibandingkan bulan lalu karena pada bulan Desember kita mengalami defisit sebesar USD28,2 juta. Defisit tapi tipis, jauh sekali dibandingkan defisit pada bulan November 2019," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di gedung BPS, Jalan Dr Sutomo, Jakarta Pusat, Rabu, 15 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Suhariyanto menjelaskan nilai impor Indonesia pada Desember 2019 mengalami penurunan sebesar 5,47 persen bila dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar USD15,34 miliar. Pun dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya, impor di Desember 2019 turun 5,62 persen.
 
"Kalau kita lihat month to month-nya dari November 2019 ke Desember 2019, penurunan impornya terjadi baik untuk impor migas yang turun 0,06 persen dan juga nonmigas yang turun 6,35 persen," bebernya.
 
Menurut Suhariyanto, perkembangan impor bulan ke Desember 2019 memiliki pola serupa dengan pola dua tahun sebelumnya. Pola impor di penghujung tahun bakal mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
 
Adapun seluruh golongan barang pada Desember 2019 mengalami penurunan secara bulan ke bulan. Impor barang konsumsi melorot 1,32 persen, bahan baku/penolong turun 6,83 persen, serta barang modal yang mengalami penurunan impor sebanyak 2,16 persen.
 
Sementara itu, beberapa golongan barang HS dua digit pada impor nonmigas mengalami kenaikan. Golongan gula dan kembang gula mengalami peningkatan terbesar, yaitu USD89,1 juta atau naik 99,89 persen.
 
Golongan barang dengan peningkatan terbesar berikutnya adalah buah-buahan USD64,3 juta (37,30 persen); sayuran USD52,6 juta (56,56 persen); kapal, perahu, dan struktur terapung USD44,8 juta (85,50 persen); dan golongan kain kempa, benang khusus, benang pintal USD41,0 juta (92,55 persen).
 
"Peningkatan impor pada buah-buahan untuk persiapan Imlek. Karena kalau kita lihat impor buah-buahannya seperti apel, jeruk mandarin, dan pir. Bisasanya kalau Imlek kan dibutuhkan banyak buah-buahan," paparnya.
 
Sebaliknya ada juga penurunan impor pada beberapa barang nonmigas. Penurunan terbesar dialami golongan kendaraan dan bagiannya sebesar USD254,7 juta atau 36,77 persen; diikuti oleh golongan mesin dan perlengkapan elektrik USD228,7 juta (11,72 persen); besi dan baja USD159,8 juta (16,63 persen); bahan bakar mineral USD139,2 juta (47,61 persen); serta logam mulia, perhiasan/permata USD65,6 juta (47,19 persen).
 
Menurut asal barang, impor Indonesia di Desember 2019 dari Italia mengalami peningkatan terbesar yakni sebanyak USD47,4 juta. Diikuti oleh Oman dengan kenaikan impor USD29,5 juta, Bulgaria naik USD28,8 juta, Jerman USD18,9 juta, dan India USD18,7 juta.
 
Sementara impor dari Australia mengalami penurunan terbesar di Desember 2019, yakni melorot USD188 juta. Kemudian Jepang yang turun USD148,3 juta, Tiongkok USD123 juta, Brasil USD78,8 juta, serta Ukraina USD51,6 juta.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif