Ilustrasi (MI/Amiruddin Abdullah)
Ilustrasi (MI/Amiruddin Abdullah)

Garuda Bakal Tagih Piutang Mahata

Ekonomi garuda indonesia
Suci Sedya Utami • 09 Mei 2019 06:45
Banten: Laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk di 2018 menjadi polemik. Pasalnya Garuda Indonesia memasukkan penghasilan dari kerja sama dengan PT Mahata Aero Teknologi untuk 15 tahun ke depan yang belum dibayarkan.
 
Dalam kontrak 15 tahun tersebut Garuda Indonesia Group mendapatkan pendapatan tambahan sebesar USD241,9 juta sebagai kompensasi hak pemasangan peralatan layanan konektivitas dan hak pengelolaan layanan in-flight entertainment. Jumlah tersebut dimasukkan sebagai bagian dari penghasilan Garuda di 2018.
 
Garuda percaya Mahata akan menyelesaikan kewajiban mereka. Direktur Teknik dan Layanan Garuda Indonesia Iwan Joeniardi mengatakan manajemen Garuda telah melakukan kajian terhadap partner tersebut. Ia bilang ada kesanggupan dari Mahata untuk menyelesaikan semua kewajiban.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebab, kata Iwan, meski merupakan startup, namun Mahata dipandang sebagai perusahaan yang memiliki kerja sama dengan Lufthansa System, Lufthansa Technic, Inmarsat, Aeria Interactive, Ai Motus Ltd, CBN dan Qandeo Asia Consulting. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah perusahaan internasional.
 
Bahkan, Mahata merupakan anak usaha dari Global Mahata Group yang nilai bisnisnya secara total mencapai USD640,5 juta. "Garuda yakin piutang yang timbul akan bisa diselesaikan. Meski Mahata startup, tapi Mahata punya bisnis model yang bagus karena diakui perusahaan internasional," kata Iwan, di Hanggar GMF, Cengkareng, Banten, Rabu, 8 Mei 2019.
 
Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen dan Risiko Garuda Indonesia Fuad Rizal mengatakan, berdasarkan Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan (PSAK) 23, pendapatan yang berasal dari Mahata untuk penyediaan layanan hiburan dan konektivitas dalam penerbangan (wi-fi on board) dimungkinkan untuk dicatatkan dalam laporan keuangan perseroan tahun lalu.
 
Fuad menjelaskan pendapatan memang harus dicatatkan sebagai rugi atau laba. Pada saat pendapatan tersebut belum diberikan maka dicatatkan sebagai piutang. Dalam kasus ini, pendapatan yang belum dicatatkan berdasarkan basis penghitungan akrual yang telah diaudit oleh auditor independen membolehkan memasukkan di laporan keuangan sebagai keuntungan.
 
"Itu dimungkinkan untuk dicatatkan di 2018 walaupun belum ada pendapatan yang diterima," tutur Fuad.
 
Lebih jauh, Fuad menambahkan, perbedaan pendapat antara dua komisaris yang mewakili PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd yakni Chairul Tanjung dan Dony Oksaria dengan komisaris lainnya merupakan hal yang wajar.
 
"Memang yang disampaikan komisaris ini perbedaan pendapat saja pada laporan transaksi pendapatan. Pengesahan annual report kita kan berdasarkan kuorum single majority," pungkas Fuad.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif