Penundaan Larangan Impor CPO tak Boleh Diskriminatif

Desi Angriani 28 Juni 2018 14:55 WIB
cpokementerian perdagangan
Penundaan Larangan Impor CPO tak Boleh Diskriminatif
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Jakarta: Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) meminta penundaan larangan penggunaan crude palm oil (CPO) sebagai bahan campuran biofuel hingga 2030 tak diskriminatif. Sebab hal itu juga harus berlaku bagi jenis vegetable oil atau minyak nabati.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengungkapkan semula penundaan itu hanya diperbolehkan bagi seluruh produk minyak kepala sawit. Namun kini, pihaknya meminta perpanjangan ekspor ke Eropa hingga 2030 itu juga diperbolehkan bagi minyak nabati.

"Karena yang awalnya 2030 adalah yang lainnya, tapi palm oil didulukan 2021, sekarang ini palm oil mundur jadi 2030 artinya harusnya sama dengan yang lain," katanya saat ditemui di Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman, Jakarta, Kamis, 28 Juni 2018.

Bila dalam pelaksanaannya Uni Eropa melakukan diskriminasi, maka Pemerintah Indonesia siap mengajukan gugatan. Bahkan perang dagang dimungkinkan jika negosiasi menemui jalan buntu.

"Kalau terjadi diskriminasi itu kita lakukan," imbuh dia.

Oke menambahkan dalam waktu dekat pemerintah akan mengirim tim khusus ke Uni Eropa. Kedatangan utusan ini untuk terlibat dalam pembahasan kriteria ekspor minyak yang diperbolehkan bagi Indonesia. Namun pemerintah sendiri tidak mengajukan kriteria melainkan memastikan tidak ada ya diskriminasi.

"Atau tadi kita harus langsung terlibat dan memperhatikan kriteria yang mereka bangun," pungkasnya.

Pemerintah Indonesia sebelumnya terus melakukan protes keras sejak Uni Eropa  menggaungkan penghapusan biofuel berbasis kelapa sawit (phase out palm oil based biofuel) pada 2021. Parlemen Eropa  menilai penggunaan minyak sawit sebagai salah satu biofuel berpotensi memberantas hutan.

Uni Eropa tak hanya melarang peredaran minyak sawit mentah dan biodiesel tapi juga seluruh produk turunan yang menggunakan minyak sawit mentah. Hal ini bisa berdampak ke negara pengekspor CPO terbesar di dunia seperti Indonesia dan Malaysia.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id