Ilustrasi (MI/ANGGA YUNIAR)
Ilustrasi (MI/ANGGA YUNIAR)

BRI Luncurkan Satelit Baru di 2023

Ekonomi bri
Antara • 15 Agustus 2019 12:02
Jakarta: PT Bank Rakyat Indonesia Persero (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI berencana meluncurkan satelit baru pada 2023 guna memutakhirkan layanan digital dan meningkatkan upaya memitigasi risiko hambatan jaringan. Hal itu nantinya diharapkan memberi efek positif terhadap pertumbuhan bisnis BRI di masa mendatang.
 
Direktur Utama BRI Suprajarto mengatakan satelit tambahan BRI ini nantinya akan memanfaatkan koordinat 103 Bujur Timur (BT), atau slot orbit kosong yang belum dimanfaatkan, dengan spektrum L Band. Dengan satelit tambahan ini, ujar Suprajarto, BRI ingin memiliki jangkauan yang lebih luas dari sisi barat Indonesia hingga kawasan timur Indonesia.
 
Selain itu, lanjutnya, memiliki ketahanan yang berlapis untuk layanan digital perbankan. "Satelit ini juga akan membuat BRI lebih efektif dan akurat dalam komunikasi, sehingga potensi bisnis juga makin besar," kata Suprajarto, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Kamis, 15 Agustus 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat ini, emiten bersandi BBRI ini sudah memiliki satelit bernama BRISat yang mengorbit di 150,5 Bujur Timur sejak diluncurkan pada 19 Juni 2016 silam. Pada kesempatan yang sama, Direktur Teknologi Informasi dan Operasi BRI Indra Utoyo mengatakan satelit BRISat berada di Papua atau meliputi wilayah Timur Indonesia.
 
Artinya BRI perlu menambah jaringan satelit untuk meningkatkan kualitas jangkauan di wilayah barat "Untuk menjangkau wilayah barat, makanya satelit baru ini kelak akan jadi keberagaman untuk jangkau wilayah barat," kata Indra
 
Menurut Indra satelit baru BRI ini akan berjenis High Throughput Satelite (HTS) dengan kapasitas tinggi sebesar 100 Gbit/s dengan operasi berada di spektrum L Band. Penambahan satelit ini juga, ujar Indra, jadi upaya memitigasi risiko hambatan jaringan digital dan komunikasi perseroan. Misalnya, satelit tambahan ini dapat menjadi cadangan ketika BRISat bermasalah.
 
"Sebagai bagian manajemen risiko, dengan kondisi buruk diversity memang menjadi hal yang penting karena kami juga tidak bisa hanya mengandalkan BRISat. Meskipun saat ini untuk mencadangkan (data) kami juga sudah bekerja sama dengan operator telekomunikasi (satelit) lain, tapi akan lebih baik kalau kami punya sendiri," pungkas Indra.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif