Ilustrasi (MI/MOHAMAD IRFAN)
Ilustrasi (MI/MOHAMAD IRFAN)

Sektor Manufaktur Harus Berani Lakukan Terobosan

Ekonomi pertumbuhan ekonomi ekonomi indonesia industri manufaktur
Antara • 21 Agustus 2019 13:04
Jakarta: Sektor industri manufaktur dinilai perlu memperbanyak terobosan di tengah ketatnya persaingan dengan pelaku usaha di kawasan Asia yang semakin ketat melalui inovasi pemanfaatan teknologi dan efisiensi proses produksi. Bahkan, sektor manufaktur diharapkan bisa berkontribusi lebih positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
 
”Satu-satunya jalan memperkuat daya saing industri manufaktur adalah inovasi. Walaupun ada disrupsi, namun akan lebih efisien," kata Ekonom Universitas Indonesia (UI) Lana Sulistyaningsih, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Rabu, 21 Agustus 2019.
 
Selama dua tahun terakhir kontribusi sektor industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional cenderung menurun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut di 2018, sektor industri manufaktur ini hanya berkontribusi 19,82 persen terhadap total PDB yang mencapai Rp14.837 triliun.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara pada 2017 industri manufaktur menyumbang 21,22 persen dari PDB sebesar Rp13.588 triliun. Lana yang juga analis PT Samuel Asset Management itu menambahkan, masalah terbesar yang membuat daya saing industri tidak solid bukan berasal dari pelaku usahanya, melainkan lingkungan bisnis yang menciptakan ekonomi biaya tinggi.
 
"Beberapa faktor yang membuat biaya produksi mahal adalah aspek non teknis seperti pungli, macet, kadang ada bajing loncat. Biaya itu bisa mencapai 10 persen dari biaya produksi,” tegasnya.
 
Lana tidak melihat harga energi menjadi faktor utama yang menurunkan daya saing industri nasional, karena cenderung stabil dan kontraknya jangka panjang. Seperti halnya gas bumi yang sesungguhnya lebih kompetitif dan efisien sebagai sumber energi.
 
Melalui strategi yang tepat, banyak sektor industri yang sukses memperkuat bisnisnya karena beralih menggunakan gas bumi sebagai sumber energi yang harganya relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir.
 
Salah satu perusahaan keramik yang mampu mengoptimalkan peluang pasar yaitu PT Cahayaputra Asa Keramik Tbk, yang pendapatannya naik hingga 47,37 persen menjadi Rp84 miliar di kuartal I-2019. Sementara laba bersihnya tumbuh 50 persen menjadi Rp6 miliar.
 
Direktur Cahayaputra Asa Keramik Juli Berliana mengatakan, kinerja positif sepanjang kuartal I-2019 itu didorong oleh pengenaan bea masuk pengamanan impor ubin keramik mulai Oktober 2018. Perusahaan keramik lainnya, PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) juga mampu meraih pendapatan Rp561,22 miliar.
 
Pencapaian itu naik 13,44 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, Rp494,71 miliar. Laba bersih ARNA juga melesat 41,20 persen menjadi Rp55,69 miliar. Pada periode sama 2018, laba bersih ARNA Rp39,86 miliar seiring dengan kemampuan menurunkan biaya produksi.
 
Beberapa tahun sebelumnya, pengusaha keramik mengeluh harga gas yang tinggi membuat produknya kalah bersaing, salah satunya dengan produk keramik asal Tiongkok. Padahal harga gas ke industri di Indonesia rata-rata sebesar USD8,8 per mmbtu dan sedangkan di Tiongkok USD15,0 per mmbtu.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif