Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)

Bisnis Reseller Pulsa Masih Menguntungkan

Ekonomi fintech
Nia Deviyana • 16 Mei 2019 14:11
Jakarta: Seiring pesatnya industri keuangan digital, masyarakat mulai menilai bisnis reseller pulsa tidak lagi menguntungkan. Bukan tanpa alasan, masyarakat kini bisa dengan mudah mengisi pulsa lewat berbagai layanan seperti internet banking, platform marketplace, dan sebagainya.
 
Fenomena tersebut dibenarkan Direktur perusahaan financial technology (fintech) peer to peer lending (P2P) KIMO Bernar Martian. Namun, dia kurang setuju jika bisnis reseller pulsa dikatakan sudah tidak bergairah.
 
"Kalau di kota besar memang. Tetapi di daerah-daerah dan pinggiran kota, bisnis ini masih sangat kuat," ujarnya saat mengisi diskusi bersama Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) di Centennial Tower Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis, 16 Mei 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia melanjutkan, KIMO sebagai penyelenggara fintech P2P yang memberikan pendanaan kepada reseller pulsa mendorong agar bisnis tersebut tidak hilang. Sejak didirikan pada 2016, KIMO telah memberikan pendanaan terhadap 10 ribu outlet.
 
Namun, jika bisnis ini terpaksa tergerus kecanggihan teknologi, Bernard optimistis nasabahnya bisa bergeser ke bisnis yang lebih baik dan lebih mudah memperoleh akses pembiayaan karena sudah memiliki riwayat kredit.
 
"Jadi meminjam uang tidak hanya untuk menyokong bisnis pulsa saat ini, tetapi juga sebagai historical record untuk mengajukan pembiayaan jika ke depan mau berganti model bisnis," bebernya.
 
Bernard menuturkan awal mula didirikan KIMO karena melihat banyak masyarakat kekurangan modal saat ingin menjadi reseller pulsa. Sejak 2016, KIMO telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp534,1 miliar dengan tingkat keberhasilan bayar (TKB) 90 persen.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif