Pengamat pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Bayu Khrisnamurti.
Pengamat pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Bayu Khrisnamurti.

Ekonom IPB: Jokowi Berhasil Kendalikan Harga Pangan

Ekonomi debat capres ketahanan pangan
Ilham wibowo • 14 Februari 2019 19:36
Jakarta: Kinerja sektor pangan Pemerintah Presiden Joko Widodo dinilai masih dalam pertumbuhan positif. Stabilitas harga komoditas berhasil dikendalikan dengan baik.
 
"Kita lihat keberhasilannya antara lain inflasi pangan yang terkendali dan walaupun dengan catatan tingkat inflasi itu terjadi pada tingkatan harga yang lebih tinggi," kata Pengamat pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Bayu Khrisnamurti ditemui di Kadin Tower, Jakarta, Kamis, 14 Januari 2019.
 
Capaian tingkat inflasi tahun ke tahun pada Januari 2019 tercatat sebesar 1,98 persen. Tingkat inflasi pangan yang terus membaik itu juga tercermin dari tingkat inflasi tahun ke tahun per Januari sejak 2014.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2014 tingkat inflasi tahun ke tahun per Januari tercatat 11,43 persen. Selanjutnya, pada 2015 sebesar 8,24 persen dan 2016 sebesar 6,60 persen.
 
Data kemudian menunjukan pada 2017 nilai inflasi bahan makanan turun menjadi 4,11 persen. Pada 2018 tingkat inflasi tahun ke tahun sebesar 2,95 persen. Sedangkan pada 2019 menurun menjadi sebesar 1,98 persen.
 
"Tingkat kemiskinan (di perkotaan) juga termasuk tingkat kemiskinan di desa itu menurun. Dengan demikian mengindikasikan petani kita yang miskin berkurang," kata Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) ini.
 
Meski demikian, kata dia, capaian angka tersebut masih bisa dimaksimalkan di masa mendatang. Stabilitas harga kondisinya perlu berlangsung secara berkelanjutan.
 
"Stabil tapi kecenderungannya masih naik. Upah petani belum banyak bergerak membaik dibanding upah buruh perkotaan, sehingga petani kita lebih tertarik ke kota," kata Bayu.
 
Fokus kepada menjaga keberlangsungan petani juga menjadi penting untuk bisa menjaga pasokan pangan nasional. Sebab antangan di masa mendatang, jumlah petani dan ketersediaan lahan cenderung bakal semakin menyusut.
 
"Situasi kita menunjukkan sumber pendapatan petani pada nonpertanian lebih besar, kemudian waktu para petani di luar pertanian juga lebih besar. Ini indikasikan kita menghadapi kondisi bertani yang menjadi tidak menarik. Kalau tidak ada petani produksi pangan juga berpengaruh," ungkapnya.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif