Ilustrasi. MI/MOHAMAD IRFAN.
Ilustrasi. MI/MOHAMAD IRFAN.

Perbankan Indonesia Lebih Kuat Dibandingkan Kondisi 1998

Ekonomi perbankan ekonomi indonesia
03 Januari 2019 20:50
Jakarta: Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan perbankan Indonesia pada saat ini sudah lebih kuat dalam menghadapi tekanan global dibandingkan dengan kondisi pada 1998.
 
Executive Director CIPS Rainer Heufers menyatakan saat ini memang ada kekhawatiran muncul karena adanya ketakutan berulangnya krisis ekonomi 1998. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin memperkuat kekhawatiran tersebut.
 
Padahal, lanjutnya, kondisi krisis ekonomi 1998 sangat berbeda dengan yang telah terjadi pada 2018, serta tingkat depresiasi mata uang rupiah jauh lebih rendah daripada yang terjadi pada 1998.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bank-bank Indonesia sudah lebih kuat dan sektor keuangan Indonesia jauh lebih kuat dalam menghadapi tekanan global," ucapnya dikutip dari Antara, Kamis, 3 Januari 2019.
 
Selain itu, ujar dia, cadangan devisa negara jauh melebihi yang dimiliki pada 1998 dan rasio utang terhadap PDB kurang dari setengah dari 74 persen yang dialami Indonesia pada 1998.
 
Ia juga mengemukakan bahwa defisit anggaran dan tingkat utang secara umum tetap terkendali dan berada dalam batas aman yang diatur UU.
 
Hal ini bahkan tetap terjadi setelah Bank Indonesia (BI) mengikuti kebijakan normalisasi The Fed dengan menaikkan suku bunga tujuh kali dengan total 1,75 persen pada 2018.
 
BI optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan terus bergerak stabil dan menguat pada 2019. Gubernur BI Perry Warjiyo sempat mengatakan suku bunga acuan bank sentral AS The Fed atau Fed Fund Rate (FFR) yang tahun ini naik empat kali, pada 2019 hanya akan naik dua kali.
 
Selain itu, ketegangan terkait perdagangan global dinilainya sudah mengarah ke arah yang lebih positif.
 
Sementara itu, dari sisi dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia dipastikan akan lebih baik di mana pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yaitu di kisaran 5-5,4 persen.
 
Inflasi juga diperkirakan akan tetap rendah dan terkendali di 3,5 persen dan defisit neraca transaksi berjalan akan turun menjadi 2,5 persen dibandingkan tahun lalu yang diprediksi mencapai tiga persen.
 


 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif