KJA Berpotensi Genjot Produksi Ikan Nasional
Keramba jaring apung di kawasan sentral budidaya ikan di Lhokseumawe, Aceh, Sabtu (18/11/2017). Foto: Antara/Rahmad
Jakarta: Teknologi budidaya keramba jaring apung (KJA) berpotensi menggenjot produksi ikan nasional. KJA memungkinkan budidaya ikan di perairan umum seperti sungai, danau, waduk, dan situ.

"KJA yang ramah lingkungan dan berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan nasional yang diprediksi mencapai 40 kilogram ikan per kapita per tahun," kata peneliti dari Pusat Riset Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Krismono, melalui keterangan tertulis, Rabu, 28 November 2018.

Krismono memaparkan hal itu dalam Seminar Teknologi Budidaya KJA Berkelanjutan di Perairan Umum yang digelar Trobos Aqua di JIEXPO Kemayoran hari ini. Seminar berlangsung dalam rangkaian Pameran Aquatica Asia & Indoaqua 2018 yang diselenggarakan Ditjen Budidaya Perikanan KKP.

Data Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP menyebutkan jumlah produksi ikan pada 2015 masih didominasi oleh perikanan air tawar yang mencapai 69 persen. Berikutnya adalah budidaya air payau sebesar 30 persen yang terdiri atas udang, ikan, dan rumput laut. Adapun budidaya laut baru menyumbang 1 persen. 

Pada 2016, produksi perikanan budidaya mencapai 13,2 juta ton atau naik 6,9 persen dibandingkan dengan 2015 yang mencapai 11,5 juta ton. Besarnya produksi ikan air tawar didominasi oleh jenis ikan lele, mas, nila, dan patin. 

"Ini membuktikan bahwa budidaya ikan air tawar, terutama melalui teknologi KJA, merupakan ujung tombak bagi pemenuhan kebutuhan protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat," kata Krismono.

Ia melanjutkan, KJA pun memiliki dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat karena merupakan mata pencaharian utama bagi penduduk di sekitar perairan umum. Lebih jauh, adanya teknologi KJA memberikan efek berantai terhadap penyerapan tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung.

"Penyerapan kerja berlangsung dari hulu ke hilir, seperti mereka yang bekerja untuk pembenihan, pakan ikan, buruh bongkar muat, buruh transportasi, tenaga panen, hingga pemilik warung makan," katanya.

Meski begitu, ia mengingatkan agar penggunaan teknologi KJA diimbangi dengan perhitungan kemampuan daya dukung perairan. "KJA memerlukan lingkungan perairan yang bersih agar ikan dapat tumbuh secara optimal," katanya.

Butuh protein besar

Dekan Fakultas Perikanan Universitas Padjadjaran Yudi Nurul Ihsan mengingatkan pada tahun 2030 jumlah penduduk dunia mencapai 9 miliar orang. Untuk itu diperlukan asupan protein yang besar. 

"Dengan luas daratan yang semakin sempit, maka sumber protein dari daratan akan semakin terbatas. Dengan demikian, ikan menjadi sumber protein yang sangat diandalkan di masa mendatang," kata Yudi. 

Budidaya perikanan, lanjut dia, menjadi sektor yang diandalkan untuk memenuhi sumber protein serta menjadi lahan pekerjaan bagi penduduk produktif yang menjadi bonus demografi Indonesia pada 2030.






(UWA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id