Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)

Sektor Manufaktur RI Semakin Produktif

Ekonomi kementerian perindustrian industri manufaktur
06 Mei 2019 07:22
Jakarta: Kinerja industri manufaktur dinilai semakin produktif dan kompetitif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi industri manufaktur besar dan sedang (IBS) pada kuartal I 2019 naik 4,45 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
 
Jumlah tersebut juga lebih tinggi dari sepanjang 2018 yang hanya mencapai 4,07 persen. Kenaikan produksi IBS ditopang sektor industri pakaian jadi yang meningkat 29,19 persen karena melimpahnya jumlah pesanan, terutama dari pasar ekspor.
 
"Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri tekstil dan pakaian termasuk dari lima sektor yang disiapkan menjadi andalan dalam penerapan industri 4.0 di Indonesia. Industri TPT (tekstil dan produk tekstil) merupakan salah satu sektor manufaktur yang dikategorikan strategis dan prioritas dalam perannya menopang perekonomian," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam pernyataan tertulisnya, akhir pekan ini.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menuturkan kemampuan industri TPT dalam dua tahun terakhir semakin kompetitif, baik di pasar domestik maupun global. Ini terlihat dari laju pertumbuhan industri TPT pada 2018 yang mencapai 8,73 persen atau mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,17 persen.
 
"Pada 2018, industri TPT menjadi penghasil devisa cukup signifikan dengan nilai ekspor USD13,22 miliar atau naik 5,55 persen ketimbang tahun lalu. Industri TPT juga menyerap tenaga kerja sebanyak 3,6 juta orang. Ini yang menjadikan industri TPT sebagai sektor padat karya dan berorientasi ekspor," paparnya.
 
Sektor IBS lain yang produksinya tumbuh pesat ialah industri minuman sebesar 24,8 persen, disusul industri percetakan dan reproduksi media rekaman 21,44 persen, industri pengolahan tembakau 17,19 persen, serta industri furnitur 12,92 persen.
 
Airlangga optimistis kinerja industri TPT serta industri makanan dan minuman mampu tumbuh tinggi pada semester I-2019. Lonjakan ini salah satunya ditopang pertumbuhan konsumsi saat Pemilu 2019 dan Ramadan.
 
"Peningkatan terutama di pasar domestik seiring pelaksanaan pemilu kemarin dan menjelang datangnya bulan Ramadan," imbuhnya.
 
Tetap Kondusif
 
Selain produksi IBS, berdasarkan data BPS, pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil (IMK) pada kuartal I 2019 juga naik 6,88 persen dari periode sama tahun sebelumnya. Jumlah tersebut meningkat 4,55 persen dari kuartal IV-2018.
 
Di sisi lain, geliat industri manufaktur Indonesia terlihat dari capaian purchasing manager index (PMI) yang dirilis Nikkei. PMI manufaktur Indonesia pada April 2019 berada pada angka 50,4 yang menandakan sektor manufaktur tengah ekspansif.
 
"Ini juga menandakan mereka melihat iklim usaha di Indonesia tetap kondusif dan mampu mengelola ekonomi melalui norma baru," ujar Airlangga.
 
Saat ini, industri manufaktur tercatat mampu memberikan kontribusi kepada produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 20 persen. "Dari capaian 20 persen tersebut, Indonesia menempati peringkat kelima di antara negara G-20," bebernya.
 
Posisi Indonesia berada di bawah Tiongkok, dengan sumbangsih industri manufakturnya mencapai 29,3 persen. Kemudian disusul Korea Selatan (27,6 persen), Jepang (21 persen), dan Jerman (20,7 persen). "Kalau kita lihat rata-rata kontribusi manufaktur dunia saat ini sekitar 15,6 persen. Jadi, sebenarnya kita sudah sejajar dengan Jerman," pungkasnya. (Media Indonesia)
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif