Presiden Setujui Metode Anyar Penghitungan Proyeksi Produksi Beras

Dheri Agriesta 23 Oktober 2018 18:50 WIB
beras
Presiden Setujui Metode Anyar Penghitungan Proyeksi Produksi Beras
Beras. MI/BENNY BASTIANDY.
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan metode baru menghitung proyeksi produksi beras Indonesia. Metode kerangka sampel area (KSA) yang ditemukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi itu telah disetujui Presiden Joko Widodo.

"Saya sudah lapor Presiden, Presiden (sudah) oke," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa, 23 Oktober 2018.

Wapres memerintahkan BPS menghitung ulang proyeksi produksi beras yang dinilai keliru. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, proyeksi produksi beras pada 2018 mencapai 80 juta ton.

BPS pun menggandeng sejumlah lembaga terkait seperti BPPT, LIPI, dan Badan Informasi Geospasial. Mereka pun memutuskan menggunakan metode KSA dan didukung pemanfaatan teknologi terkini seperti citra satelit.

Kalla menyebut berdasarkan data dengan metode baru itu, BPS mencatat terdapat 7,1 juta hektare lahan baku sawah pada 2018. Setelah luas lahan dan sawah diketahui pemerintah akan menghitung produktivitas sawah tersebut.

"Yang penting sebenarnya kemarin itu sudah diketahui luas sawah yang sebenarnya paling mendekati, itu yang paling pokok, luas sawah, itu diambil lewat satelit dan kemudian di cek di lapangan," kata Kalla.

Tiga tahun terakhir, BPS bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), untuk memperbaiki data tersebut. Perbaikan data menggunakan metode kerangka sampel area (KSA), inovasi BPPT yang mendapat penghargaan dari LIPI.

Suhariyanto menambahkan Kementerian ATR baru saja memperbarui luas lahan baku sawah yang ada saat ini. Pada 2018, tercatat luas lahan baku sawah seluas 7,1 hektare.

 



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id