Ibu Kota Baru Harus Jauh dari Risiko Banjir
Lanskap gedung-gedung perkantoran, apartemen dan permukiman penduduk di Jakarta. Foto: Antara/Widodo S Jusuf
Jakarta: Kajian pemindahan ibu kota negara sudah sampai ke meja Presiden Joko Widodo. Berbagai studi diperhitungkan dalam memilih lokasi yang tepat sebagai ibu kota.

Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) atau Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Djalil mengatakan pihaknya mencermati dari sisi topografi atau bentuk permukaan tanah yang cocok sebagai lokasi ibu kota. Daerah yang tanahnya menyerap air secara baik masuk dalam daftar ATR.

"Bukan daerah banjir, bukan rawa-rawa. Jadi enggak semua tanah cocok, misalnya kalau hujan terus timbulkan banjir, jangan lagi ibu kota baru seperti itu," singkat Sofyan ditemui di Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kamis 4 Januari 2017.


Sebelumnya,  Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah menyerahkan hasil kajian pemindahan ibu kota kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Laporan tersebut sudah disampaikan beberapa waktu lalu.

"Kemarin sudah dilaporkan kepada Presiden, ya arahannya kita akan bahas lebih detail lagi. Lebih detailnya ya termasuk apa langkah selanjutnya," kata Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro.

Baca juga: Pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan Mulai Direalisasikan di 2018

Bambang memastikan rencana pemindahan ibu kota negara akan dilakukan ke luar Pulau Jawa. Daerah di luar Pulau Jawa dinilai belum memiliki beban, baik menyangkut jumlah penduduk maupun pembangunan.

"Di luar Jawa sudah pasti. Pemindahan ibu kota akan dilakukan ke lokasi yang strategis, yakni berada di tengah-tengah wilayah Indonesia," ucapnya.

Soal kriteria, lanjut dia, orientasi ibu kota baru berada di tengah Indonesia, diukur dari barat dan timur. Selain aspek lokasi pemindahan, juga akan memperhatikan aspek pendanaan. Ia memastikan pihaknya masih terus melakukan kajian untuk memperkuat pemindahan ibu kota. Karena itu penting untuk mengetahui aspek-aspek yang diperlukan.

"Kan harus lihat dulu argumennya, kira-kira seperti apa. Lalu kalau pindah, harus tahu dulu lokasinya, cocok tidak," pungkas Bambang.

Baca juga: Bappenas: Butuh 5 Tahun Pindahkan Ibu Kota Negara 

 



(Des)