Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Eskalasi Perang Dagang, RI Harus Incar Pasar Negara Berkembang

Ekonomi as-tiongkok Perang dagang
Desi Angriani • 05 Juni 2019 13:29
Jakarta: Eskalasi perang dagang dinilai hanya bersifat sementara terhadap perekonomian Indonesia. Namun, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang memasuki babak baru harus diantisipasi oleh pemerintah dengan tidak bergantung pada pasar negara-negara maju.
 
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan pemerintah harus mencari pasar-pasar ekspor baru selain AS, Tiongkok, Eropa dan Australia. Misalnya pasar Afrika yang masih sangat potensial dalam memasarkan produk-produk dalam negeri.
 
"Kita melihat Afrika pasar besar dan bea masuk tinggi, tapi Afrika itu masih banyak menerima produk dari Indonesia khususnya makanan dan minuman," ujar Bhima saat dihubungi Medcom.id di Jakarta, Rabu, 5 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, Indonesia perlu melakukan Free Trade Agreement (FTA) atau perjanjian perdagangan bebas dengan Afrika agar terhindar dari bea masuk yang tinggi. Fokus memperluas ekspansi ekspor ke negara berkembang lebih penting daripada mengembangkan ekspor ke negara maju. Sebab, negara-negara maju dipastikan terdampak eskalasi perang dagang.
 
"Kenapa kita enggak fokus kerja sama FTA dengan mereka bukan dengan Eropa dan Australia. Mending pasar-pasar yang berkembang gitu," ungkapnya.
 
Jika itu dapat dilakukan, maka kinerja ekspor akan bisa terjaga dan defisit neraca dagang bisa diperkecil. Saat ini neraca perdagangan Indonesia terpukul akibat produksi manufaktur Tiongkok menurun. Sebab, permintaan bahan mentah dari Indonesia khususnya komoditas batu bara, dan minyak kelapa sawit juga terkoreksi turun.
 
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan ekspor terjadi secara kumulatif pada Januari sampai April 2019. Ekspor ke Tiongkok, Amerika Serikat dan Jepang turun sebesar 9,39 persen atau sebesar USD53,2 juta dibandingkan Januari sampai April 2018.
 
Sebaliknya barang impor Tiongkok khususnya barang konsumsi justru membanjiri pasar dalam negeri lantaran barang-barang Negeri Panda tersebut terhambat masuk ke AS.
 
Terbukti, selama Januari hingga Maret 2019 barang impor konsumsi nonmigas dari Tiongkok naik 29,01 persen atau mencapai USD10,42 miliar. Akibat tingginya nilai impor dari pada ekspor, Indonesia akhirnya mencatatkan defisit terparah sepanjang sejarah yakni, sebesar USD2,5 miliar pada April lalu.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif