Illustrasi. MI/RAMDANI.
Illustrasi. MI/RAMDANI.

Naik Rp783 triliun, Utang BUMN Capai Rp5.613 Triliun

Ekonomi utang luar negeri bumn
Suci Sedya Utami • 28 Februari 2019 20:05
Jakarta: Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatat liabilitas atau utang perusahaan pelat merah hingga akhir 2018 mencapai Rp5.613 triliun. Dari data unaudited Kementerian BUMN, jumlah tersebut mengalami kenaikan 16,2 persen atau secara nominal sebesar Rp783 triliun. Akhir 2017, posisi utang BUMN sebesar Rp4.830 triliun.
 
Sekretaris Kementerian BUMN Imam Apriyanto Putro mengatakan meskipun mengalami peningkatan namun posisi tersebut masih dalam batas yang aman. Ia bilang kenaikan terjadi lantaran perusahan BUMN terus berkembang.
 
"Ya namanya perusahaan tumbuh berkembang besar butuh investasi. Investasi kan ada porsi ekuiti dan utang," kata Imam usai rapat koordinasi BUMN, di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 28 Februari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Imam bilang jumlah tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Sebab kemampuan membayar utang pun masih aman dilihat dari pendapatan BUMN yang dinilai lebih besar.
 
Adapun jumlah utang tersebut di dalamnya termasuk dana pihak ketiga (DPK) perbangkan dan premi asuransi. Dari total tersebut simpanan DPK sebesar Rp3.219 triliun. Sedangkan sisanya yakni merupakan utang riil Rp2.394 triliun.
 
Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius K Ro mengatakan DPK dan premi memang secara hitung-hitungan akutansi dimasukkan ke dalam utang. Namun, kata dia, DPK dan premi bisa dibilang tidak seperti utang atau pinjaman dari kreditur.
 
"DPK itu kan uang bapak ibu yang disimpan di bank (BUMN), dia sifatnya kalau bapak ibu mau tarik atau ambil (terserah), bukan kita bayarkan seperti pinjaman," tutur Aloy sebelumnya.
 
Senada dengan Imam, Aloy pun menegaskan agar tidak perlu khawatir dengan jumlah tersebut. Dia menjamin kemampuan BUMN untuk membayar utang. Dia bilang hal tersebut bisa dilihat dari rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) yang menjadi salah satu indikator kemampuan BUMN membayar utang.
 
"Kondisi utang BUMN tersebut masih dalam kondisi yang aman. Bila dibandingkan dengan rata-rata industri mengacu pada data dari Bursa Efek Indonesia, bahwa rasio Debt to Equity BUMN masing-masing sektor masih berada di bawah rata-rata Debt to Equity industri," tutur Aloy.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif