BNI tak Segera Naikkan Bunga Kredit Rumah
Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id)
Jakarta: PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk berjanji dalam waktu dekat tidak akan menaikkan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) meskipun suku bunga acuan Bank Indonesia telah naik agresif dalam kurun enam bulan hingga 175 basis poin.

"Ditahannya kenaikan suku bunga KPR karena permintaan nasabah untuk kredit properti masih lesu," kata Sekretaris Perusahaan BNI Kiryanto dalam sebuah diskusi di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 21 November 2018.

Perseroan belum melihat kenaikan permintaan riil untuk KPR, sehingga memilih untuk tidak agresif mengeruk keuntungan dari pendapatan bunga dan memilih lebih hati-hati.

"Sekarang ini permintaan riil properti masih rendah, apalagi kalau kita naikkan (suku bunga), mana ada yang mau," kata Kiryanto.

Suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sejak Mei hingga akhir November 2018 ini sudah naik 175 basis poin atau 1,75 persen menjadi enam persen.

Kiryanto mengatakan BNI baru akan menaikkan suku bunga KPR ketika permintaan KPR sudah membaik dan tren kenaikan suku bunga masih terjadi.

"Dengan suku bunga rendah, permintaan tipis, (Ada Kenaikan) jika permintaan riil naik dan suku bunga BI juga naik," ucapnya.

Menurut Kiryanto, tidak hanya untuk bunga KPR, namun untuk suku bunga kredit lain, terutama sektor konsumsi, BNI juga masih menahan kenaikan suku bunga.

Oleh karena melambatnya kenaikan suku bunga kredit, ujar Kiryanto, perseroan juga sedang memutar otak untuk memperoleh keuntungan dari pendapatan berbasis komisi (fee based income), bukan selalu dominan dari pendapatan bunga bersih (net interest income).

"Jika kita mengacu kepada negara yang sudah maju, sumber pendapatannya bukan lagi hanya mengandalkan bunga, tapi juga komisi. Ke depan, kita juga ingin perbanyak yang komisi," tambah dia.

Upaya untuk menggenjot pendapatan komisi juga karena saat ini pertumbuhan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) begitu menggeliat. Alhasil banyak produk keuangan yang membutuhkan kerja sama dengan bank, seperti, asuransi, pengelolaan dana nasabah kaya, instrumen pasra uang atau instrumen pasar modal.

Dalam konteks itu, BNI ingin memanfaatkan masifnya pertumbuhan produk keuangan dengan kerja sama yang bermuara pada pendapatan komisi bagi perseroan.

"Memang tidak selalu dari Marjin Bunga Bersih (NIM), tapi kan ada jalur-jalur lain seperti transaksional banking yang bisa memberi komisi," kata Kiryanto.

Menurut data di laman resmi BNI, suku bunga dasar kredit (SBDK) perseroan per 30 September 2018 adalah KPR sebesar 10,5 persen, untuk non KPR sebesar 12,5 persen. Kemudian SBDK untuk ritel 9,95 persen, dan korporasi 9,95 persen.

Namun, SBDK tersebut belum ditambah komponen premi risiko yang besarnya tergantung dari penilaian bank terhadap risiko masing-masing nasabah.

 



(AHL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id