Mustahil Indonesia Tidak Impor
Staf Khusus Wakil Presiden bidang Ekonomi Wijayanto Samirin. (Foto: Metro TV)
Jakarta: Staf Khusus Wakil Presiden bidang Ekonomi Wijayanto Samirin menegaskan mustahil Indonesia tidak impor. Dalam situasi saat ini ketika dunia merupakan pabrik raksasa global yang menyuplai segala barang, Indonesia tidak mungkin tidak berinteraksi perdagangan dengan negara lain.

"Impor dan ekspor itu sebuah kebutuhan dan sudah menjadi kepastian. Bahkan negara-negara itu perlu mengimpor untuk bisa mengekspor," ujarnya dalam Metro Pagi Primetime, Jumat, 9 November 2018.

Wijayanto mengatakan tidak semua produk bahan mentah dan barang kapital itu bisa diproduksi di suatu negara. Bahkan suatu negara bisa menjatuhkan negara lain dengan cara melakukan embargo alias tidak melakukan ekspor atau impor.

"Jadi ketika diembargo dalam hitungan bulan negara itu akan melemah ekonominya. Kalau suatu negara membatasi diri tidak berinteraksi dalam perdagangan internasional, perekonomiannya akan semakin melemah," ungkapnya. 

Perlu diketahui, kata Wijayanto, ekspor dan impor merupakan salah satu landasan kerja sama dan negosiasi antarnegara. Dalam sistem negosiasi masing-masing negara boleh mengekspor tapi wajib juga untuk mengimpor.

Satu contoh, tambah dia, mengapa Indonesia perlu mengimpor jeruk asal Pakistan ketika produksi dalam negeri mampu untuk memenuhi kebutuhan. Jawabannya, impor jeruk adalah jalan bagi Indonesia agat bisa mengekspor minyak sawit kasar (CPO) ke Pakistan yang jumlahnya lebih besar.

"Ekspor impor itu suatu timbal balik. Ini yang harus kita pahami bahwa (ekspor impor) lazim saat ini," pungkasnya.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id