Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta. (FOTO: Medcom.id/Husen Mitahudin)
Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta. (FOTO: Medcom.id/Husen Mitahudin)

Pertumbuhan Ekonomi Diyakini Bisa 7% Jika UMKM Naik Kelas

Ekonomi pertumbuhan ekonomi umkm
Nia Deviyana • 12 Juli 2019 15:47
Jakarta: Pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran lima persen dalam beberapa tahun terakhir dianggap bukan semata karena faktor eksternal.
 
Berdasarkan studi yang dilakukan Megawati Institute, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan utamanya karena struktur pelaku ekonomi yang tidak berimbang.
 
Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta menuturkan unit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mampu memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 60 persen, lebih tinggi dibandingkan perusahaan besar yang memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 40 persen.Namun, potensi peningkatan ekonomi dari sektor ini belum dimaksimalkan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hal tersebut tercermin dari rendahnya keterlibatan sektor UMKM Indonesia dalam rantai nilai produksi, baik di tingkat nasional maupun global dibandingkan dengan yang terjadi negara tetangga," ujar Arif saat mengisi diskusi di Megawati Institute, Jalan Raya Proklamasi, Jakarta Pusat, Jumat, 12 Juli 2019.
 
Dia menambahkan, hanya 6,3 persen dari total UMKM dari yang ada di Indonesia mampu terlibat dalam rantai perdagangan di wilayah Asia Tenggara. Sementara dalam kontribusinya terhadap ekspor nasional, UMKM Indonesia hanya berperan sebesar 15,8 persen.
 
"Jauh tertinggal dari Malaysia, bahkan Thailand yang mencatatkan angka kontribusi terhadap ekspor sebesar 29,5 persen," imbuhnya.
 
Fakta tersebut, lanjut Arif, menggambarkan bahwa selama ini UMKM belum dianggap sebagai pelaku strategis dalam perekonomian nasional. Hal ini, menurut dia, terlihat dari kebijakan-kebijakan untuk sektor UMKM yang cenderung generik, seperti pembiayaan yang tidak tepat sasaran hingga masalah pajak yang tidak terukur.
 
Melihat masalah ini, Megawati Institute mensimulasikan jika ada 10 persen saja dari total UMKM yang ada mengalami kenaikan kelas, maka dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di atas lima persen.
 
"Misalnya dari usaha mikro naik kelas menjadi usaha kecil dan seterusnya, bisa mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tembus tujuh persen," pungkasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif