Illustrasi. Foto : MI/RAMDANI.
Illustrasi. Foto : MI/RAMDANI.

Kebijakan B30 Bakal Hemat Devisa Negara Rp74,9 Triliun

Ekonomi minyak sawit
Suci Sedya Utami • 09 Desember 2019 21:45
Jakarta: Implementasi kebijakan campuran solar dengan minyak kelapa sawit atau biodiesel 30 persen (B30) akan mulai diberlakukan Januari 2020. Penerapan B30 dengan volume 9,6 juta kiloliter (KL) diperkirakan akan bisa menghemat devisa hingga USD5,13 miliar atau setara Rp74,93 triliun.
 
Berkaca dari penerapan B20 baik untuk kegiatan public service obligation (PSO) dan non-PSO dengan volume 3,75 juta KL, negara bisa mengemat devisa dengan menekan impor bahan bakar minyak (BBM) di tahun 2018 sebesar USD1,89 miliar atau setara Rp26,67 triliun. Demikian pula penerapan B20 sebanyak 6,62 juta KL di tahun ini yang menciptakan penghematan devisa sebesar USD3,54 miliar atau setara Rp51,73 triliun.
 
"Minyak biodisel dengan jenis B20 sanggup menggantikan impor solar sebesar 3,5 juta kiloliter sehingga dapat menghemat devisa senilai USD3,5 miliar atau Rp51,75 triliun," kata Deputi Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Musdhalifah Mahmud dalam Forum Merdeka Barat 9 di Kominfo, Jakarta Pusat, Senin, 9 Desember 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, ia bilang Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan produksi 45 juta ton pada tahun 2019. Selain digunakan untuk kebutuhan di dalam negeri, produk sawit juga diekspor ke negara-negara tujuan utama seperti Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan produksi 45 juta ton pada 2019. Negara tujuan ekspor utamanya adalah India, Tiongkok dan negara-negara Eropa.
 
Ia bilang total nilai ekspor kelapa sawit mencapai USD21,4 miliar dan melebihi nilai ekspor migas. Sedangkan tenaga kerja yang terlibat langsung berjumlah 5,5 juta orang dan 12 juta orang tenaga kerja tak langsung.
 
"Peningkatan tenaga kerja sektor sawit Indonesia sebesar 10,8 persen setiap tahunnya yang secara langsung meningkatkan kesejahteraan masyarakat," papar dia.
 
Musdhalifah menambahkan pemerintah terus memacu pengelolaan perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan yang memiliki dampak ganda yakni demi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dia bilang perbaikan tata kelola perkebunan kelapa sawit tidak hanya digunakan untuk subtitusi energi, perbaikan neraca dagang tapi juga mengurangi emisi gas rumah kaca serta menciptakan lapangan pekerjaan.
 
"Apalagi mayoritas pendidikan masyarakat kita adalah menengah dan bawah. Sehingga kelapa sawit cocok dikembangkan di remote area," jelas dia.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif