Asuransi Jiwasyara. Foto : MI/Ramdani.
Asuransi Jiwasyara. Foto : MI/Ramdani.

Pembentukan Holding Bukan untuk Pulihkan Jiwasraya

Ekonomi Jiwasraya
Suci Sedya Utami • 16 Januari 2020 16:50
Jakarta: Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan pengembalian dana nasabah PT Asuransi Jiwasraya (Persero) merupakan hal yang utama (urgen) dalam proses pembenahan perusahaaan pelat merah tersebut.
 
Berbagai opsi coba ditawarkan termasuk dengan skema holding asuransi. Menanggap hal ini, Managing Director Lembaga Management FEB UI Toto Pranoto menilai holding tidak cukup kuat untuk memulihkan kondisi keuangan Jiwasraya sehingga bisa melunasi klaim para nasabah. Sebab dana yang diperlukan jumlahnya sangat besar. Dia bilang butuh instrumen-instrumen lain di luar holding.
 
"Kira-kira cukup enggak duitnya kalau utang jangka pendeknya saja sudah Rp13 triliun, belum utang jangka menengah panjang kan. perlu gede banget. Pada akhirnya perlu ada instrumen-instrumen lain yang dikemukakan di luar mekanisme pembentukan anak perusahaan atau holding," kata Toto pada Medcom.id, Kamis, 16 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Apalagi, kata dia, jika pembentukan holding hanya ditujukan atau dimaknai semata-mata untuk menutup utang Jiwasraya, maka hal tersebut dianggap konyol. Sebab pada awalnya tujuan pembentukan holding seharusnya bertujuan untuk menciptakan nilai tambah.
 
Misalnya lima perusahaan digabung dalam sebuah holding dan menghasilan nilai tambah perusahaaan menjadi tujuh. Jika nilai tambahnya sama dengan jumlah perusahaannya atau bahkan di bawahnya maka itu merusak nilai dari pembentukan holding tersebut.
 
Apabila daya saing tercipta lebih kuat maka BUMN asuransi di Indonesia diharapkan lebih kuat dan jadi pesaing dari perusahaan asuransi global yang sudah ada di sini. Kemudian setelah nilainya meningkat dan pendapatan makin bagus, maka sebagian bisa dipakai untuk merestrukturisasi Jiwasraya.
 
"Jadi jangan mendirikan holding semata-mata karena untuk membantu jiwasraya untuk beli surat utangnya. Tapi meningkatnya daya saing," ujar dia.
 
Maka dari itu Toto mengatakan Kementerian BUMN harus berfikir di luar hal pada umumnya (out of the box) yang penuh dengan inovasi. Ia mencontohkan misalnya dahulu ada yang namanya aset desekuritisasi yakni dengan menjual pendapatan di masa depan namun ditarik untuk masa saat ini.
 
"Produknya yang mana? macam-macam bisa dibuat, kalau mereka berfikir kreatif harusnys sih ada jalan," jelas Toto.
 
Sebelumnya Presiden Joko Widodo memerintahkan penyelamatan dana nasabah Jiwasraya. Langkah penyelamatan kasus gagal bayar diamanatkan pada sejumlah menteri.
 
"Arahan Presiden kepada Menteri BUMN (Erick Thohir) dan Menteri Keuangan (Sri Mulyani) agar dipertimbangkan langkah-langkah terukur memenuhi penyelamatan dana nasabah," kata juru bicara Presiden Fadjroel Rachman di Jakarta, Rabu, 15 Januari 2020.
 
Pemerintah menjamin kerugian finansial yang ditanggung nasabah melalui skema penyelamatan holdingisasi BUMN asuransi maupun penjualan aset. Pembayaran dana nasabah diharapkan dimulai tahun ini.
 
"Terhadap kepentingan masyarakat yang terkait dengan kerugian finansial," tutur dia.
 
Sementara itu Staf khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menyebut ada empat rencana yang disiapkan pemerintah untuk mencicil utang Jiwasraya ke nasabah yang ditaksir mencapai Rp12,4 triliun.
 
Pertama yakni restrukturisasi utang-utang tertunggak Jiwasraya. Dalam melakukan upaya percepatan pelunasan utang Jiwasraya, Arya menjelaskan pihaknya akan memilah utang tersebut. Utang yang bisa langsung dibayarkan akan dibayar lebih cepat. Perusahaan-perusahaan kecil dan uang nasabah pensiunan akan diutamakan.
 
"Akan dipilah mana yang bisa ditambah jatuh temponya atau dibayar lebih lama. Yang dipercepat (pembayaran) ritel kecil dan dana pensiun," ungkapnya.
 
Kedua, pemerintah akan membentuk holding perusahaan asuransi. Kementerian BUMN masih menunggu terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) terkait mekanisme regulasi holding perusahaan asuransi tersebut.
 
Pembentukan holding asuransi tersebut diharapkan dapat menyuntikkan dana pinjaman segar Rp1 triliun hingga Rp2 triliun bagi cashflow keuangan Jiwasraya.
 
"Kita harapkan nanti prosesnya cepat kalau PP-nya selesai. Karena tetap harus mematuhi regulasi. Kita tidak bisa bikin holding tanpa PP, maka tunggu pemerintah yang sedang bekerja keras menyelesaikan ini," jelas dia.
 
Ketiga akan ada gabungan dari beberapa BUMN untuk membuat anak perusahaan baru yaitu Jiwasraya Putra. Kehadiran Jiwasraya Putra diharapkan mampu memberikan kontribusi positif untuk keuangan Jiwasraya dalam kuartal pertama dan kedua 2020 ini melalui kehadiran para investor.
 
"Itu juga bisa untuk mengembalikan dana para nasabah," papar dia.
 
Keempat pemerintah akan melihat kembali portofolio saham investasi yang dimiliki Jiwasraya. Jika ada portofolio yang mengalami kenaikan harga, maka akan dilepas sebagai salah satu opsi tambahan biaya Jiwasraya membayar utang ke nasabah.
 
"Kita harapkan dana tunai bisa dihasilkan dari hal ini. Jadi ada empat poin ini yang akan kita lakukan terhadap Jiwasraya. Tapi secara teknis dikerjakan semua oleh teman-teman Jiwasraya juga," tegas Arya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif