Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. (Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo)
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. (Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo)

RI Serius Garap Pasar Ekspor Amerika Latin

Ekonomi ekspor
14 Mei 2019 11:17
Jakarta: Pemerintah terus memperluas akses pasar dan meningkatkan kerja sama perdagangan dengan beberapa negara lain. Salah satunya ialah kawasan Amerika Latin yang masih memiliki peluang pasar ekspor produk-produk Indonesia.
 
Hal itu pula yang akan dilakukan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita dengan melakukan kunjungan kerja ke Argentina dan Cile, mulai kemarin sampai Sabtu, 18 Mei 2019.
 
"Kunjungan kerja ini bentuk komitmen pemerintah dalam membuka dan memperluas peluang pasar ekspor produk-produk Indonesia ke pasar nontradisional, salah satunya kawasan Amerika Latin," kata Enggar, biasa ia disapa, dalam keterangan tertulisnya, Senin, 13 Mei 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam kunjungan kerja itu, Mendag akan mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri dan Kepercayaan Argentina Jorge Marcelo Faurie, serta sejumlah pertemuan dengan asosiasi dan pelaku usaha di Argentina.
 
Mendag juga dijadwalkan bertemu dengan Mercosur ASEAN Chamber of Commerce (MACC), Kamar Dagang Impor Argentina, serta Dewan Argentina untuk menjalin hubungan internasional.
 
Mercosur ialah blok perdagangan negara-negara Amerika Selatan yang dimotori empat negara, yakni Argentina, Brasil, Paraguay, dan Uruguay serta beranggotakan negara Amerika Selatan lain, yaitu Bolivia, Cile, Kolombia, Ekuador, Guyana, Peru, Suriname, dan Venezuela.
 
Kunjungan kerja ini juga tindak lanjut dari kunjungan resmi Wakil Presiden Argentina Gabriela Michetti ke Indonesia yang diterima Wakil Presiden Jusuf Kalla beberapa waktu lalu guna membahas peningkatan kerja sama dalam bidang perdagangan dan investasi.
 
Dari Buenos Aires, Argentina, Mendag bertolak ke Cile untuk hadir pada pertemuan menteri-menteri bidang Ekonomi Kawasan Asia Pasifik (APEC) Ministers Responsible for Trade (MRT) di Vina Del Mar.
 
Ada empat prioritas yang akan dibahas dalam sidang APEC di Cile, yaitu masyarakat digital, pertumbuhan inklusif bagi perempuan dan UKM, pertumbuhan berkelanjutan, serta integrasi 4.0.
 
Kunjungan ke Cile sekaligus menindaklanjuti implementasi kesepakatan kerja sama ekonomi komprehensif Indonesia-Chili Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA) serta memimpin misi dagang Indonesia pada forum bisnis di Santiago.
 
Diversifikasi Pasar
 
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad menyatakan pemerintah perlu mencari pasar ekspor alternatif pengganti Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok setelah hubungan kedua negara itu kian memanas setelah 'Negeri Paman Sam' menaikkan bea masuk beberapa produk asal Tiongkok dari 10 persen menjadi 25 persen.
 
Akibat konflik itu, kata Tauhid, pertumbuhan Tiongkok akan terkoreksi sampai satu persen produk domestik bruto (PDB) pada 2021. Adapun AS akan kehilangan laju ekonomi sebesar 0,9 persen PDB pada 2023.
 
Setiap kali Tiongkok mengalami penurunan satu persen PDB, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan merosot 0,14 persen. Adapun jika terjadi penurunan satu persen PDB AS, Indonesia ikut melemah 0,05 persen. Artinya, PDB Indonesia akan terkoreksi kurang lebih 0,19 persen. "Itu akan terjadi jika kita masih menggantungkan perdagangan pada dua negara itu," ujar Tauhid.
 
Untuk itu, ia menekankan, agar Indonesia menerapkan diversifikasi pasar secara serius. Kesepakatan-kesepakatan dagang baru yang telah terjalin harus benar-benar diimplementasikan. "Ada banyak negara yang bisa dieksplorasi, seperti Afrika, serta kawasan Amerika Latin dan Timur Tengah." (Media Indonesia)
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif