Cara Importir Lawan Dolar AS
Ekspor. MI/RAMDANI.
Jakarta: Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) terus memperhatikan dinamika melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini dinilai kurang menguntungkan lantaran turut mempengaruhi pendapatan importir.

"Saatnya menyingsingkan lengan baju, kalau profit ya sekarang berpengaruh," ujar Ketua Umum GINSI Anton Sihombing kepada Medcom.id, Kamis, 11 Oktober 2018.

Dia bilang, pengusaha kini perlu menanggung tambahan pengeluaran seperti kenaikan ongkos kirim logistik barang. Terlebih beberapa produk impor yang beredar di Tanah Air dibatasi regulasi harga acuan maupun besaran nilai pajak.

"Importir jelas mengalami kenaikan biaya pelabuhan, coast secara keseluruhan bertambah karena semua itu dibayar pakai dolar," ungkapnya.

Kenaikan harga komoditas barang impor bukan tak mungkin bakal diantisipasi  dengan melakukan penyesuaian harga dengan mengikuti dinamika global. Anton menilai kondisi ini cukup merugikan masyarakat Indonesia sebagai konsumen akhir.

"Sekarang dolar sudah Rp15 ribu per USD lebih jangan sampai Rp17 ribu per USD, kalau itung itungan pemerintah masih aman, pengusaha ya mengikuti situasi. Bukan setiap saat pengusaha itu harus profitnya sama terus tapi situasional," paparnya.

Anton memahami pemerintah telah maksimal menangani pelemahan rupiah yang lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal. Namun demikian, perlu dilakukan upaya lain agar seluruh potensi penguatan nilai rupiah bisa dilakukan.

"Dinamika ekonomi global ini ada beberapa negara yang juga mengalami seperti Indonesia antara lain India, Filipina dan Malaysia. Kita harapkan ini pemicu bagi kita agar menigkatkan ekspor di segala sektor dan bidang," pungkas dia.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id