Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Mendorong UMKM Bali via Produk Tembakau Alternatif

Ekonomi tembakau
10 Juni 2019 18:40
Denpasar: Keberadaan produk tembakau alternatif seperti produk tembakau yang dipanaskan (heat-not-burn) dan rokok elektrik (vape) turut mendorong perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Bali. Jumlah toko yang menjual produk inovasi teknologi tersebut pada beberapa kabupaten di Pulau Dewata terus meningkat.
 
Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta, seperti dikutip dari Antara, Senin, 10 Juni 2019, mengapresiasi perkembangan industri produk tembakau alternatif. Menurut dia, produk tembakau alternatif dapat terus berkembang serta membuka lapangan pekerjaan baru di wilayah tersebut.
 
Keberadaan produk tersebut juga turut mendorong perkembangan sektor pariwisata di Bali, khususnya Kabupaten Badung. Hal ini tidak terlepas karena ketertarikan wisatawan mancanegara dalam mengonsumsi produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik yang diproduksi oleh pengusaha lokal.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti sebelumnya juga menjelaskan wilayahnya terus mengembangkan UMKM. Untuk mempercepatnya, Pemerintah Tabanan turut menggandeng perusahaan swasta yang sudah lebih mapan.
 
Data Sensus Ekonomi 2016 menunjukkan, jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah di Bali mencapai 481.853 unit. Secara keseluruhan, UMKM tersebut mampu menyerap tenaga kerja hingga 1,23 juta orang.
 
Adapun dari jumlah UMKM di Bali, Kota Denpasar menjadi wilayah dengan jumlah UMKM terbanyak yakni mencapai 20 persen. Disusul Badung 16 persen, Gianyar 14 persen, Buleleng 13 persen, Karangasem 11 persen, Tabanan 10 persen, Jembrana enam persen, serta Klungkung dan Bangli masing-masing lima persen.
 
Geliat ekonomi kreatif membuat perkembangan UMKM di Badung dan Tabanan tidak hanya fokus terhadap penguatan daya saing di bidang usaha makanan, kerajinan, dan sejenisnya. Namun, perkembangan juga terjadi pada UMKM di bidang usaha inovatif. Di antara UMKM inovatif yang saat ini berkembang adalah mereka yang menjual produk tembakau alternatif.
 
Data Asosiasi Vaporizer Bali menunjukkan sampai Oktober 2018, terdapat 58 anggota yang tergabung dalam asosiasi dan 18 orang distributor yang tersebar pada 72 titik di seluruh Bali. Adapun pengguna Vape di Bali secara keseluruhan mencapai 60 ribu orang.
 
Wakil Sekretaris Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bali IGN Indra Andhika mengatakan pihaknya mendukung keberadaan pelaku usaha produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan. Menurut dia, produk tembakau alternatif memiliki prospek yang besar.
 
"Sektor inovatif ini akan menjadi peluang usaha yang besar ke depan mengingat posisi Bali yang sangat strategis di industri pariwisata nasional," katanya.
 
Perkembangan produk tembakau alternatif diperkirakan akan mendorong pendapatan negara dari cukai. Kementerian Keuangan telah menetapkan tarif cukai hasil tembakau produk tembakau alternatif dengan memasukannya sebagai Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146/PMK.010/2017. Aturan ini kemudian direvisi oleh PMK 156/2018. Ketentuan cukai produk tembakau alternatif tersebut telah resmi berlaku sejak 1 Juli 2018.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif