Ilustrasi (MI/RAMDANI)
Ilustrasi (MI/RAMDANI)

Peluang Indonesia Manfaatkan Perang Dagang AS-Tiongkok Kecil

Ekonomi ekonomi indonesia
12 Juli 2019 12:02
Jakarta: Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menyampaikan bahwa peluang Indonesia untuk mendapat keuntungan dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok terbilang kecil. Tidak ditampik, perang dagang di antara kedua negara tersebut masih terus terjadi hingga sekarang ini.
 
"Kalau secara peluang memang ada peluang, tapi cukup kecil," ujar Fithra, saat dihubungi, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Jumat, 12 Juli 2019.
 
Fithra mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk memanfaatkan komoditas ekspor yang selama ini menjadi unggulan untuk dikirimkan ke AS, seperti produk hortikultura ataupun furnitur.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, kata dia, hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia, mengingat negara-negara lain juga mengincar peluang yang sama untuk dapat mengambil keuntungan dari perang dagang kedua negara.
 
"Kalau pun kita melihat peluang, negara yang lain pun melihat peluang yang sama," ujar Fithra.
 
Lebih lanjut, Fithra mengatakan peluang Indonesia untuk memanfaatkan dampak perang dagang AS-Tiongkok semakin sulit lantaran bila dilihat secara komparatif maka produk Indonesia masih kalah bersaing dengan produk-produk sejenis dari negara ASEAN lain seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand.
 
Oleh karena itu, Fithra menyarankan agar saat ini Indonesia fokus terlebih dahulu dalam membangun daya saing dengan negara-negara ASEAN. Peningkatan daya saing bisa dilakukan lewat berbagai cara, seperti menjaring investor di industri-industri potensial, pembangunan infrastruktur, serta pengembangan kualitas sumber daya manusia.
 
Fithra menyebut peningkatan daya saing tersebut akan membutuhkan waktu yang panjang. Untuk menjaga agar aktivitas ekspor tidak terganggu, Fithra menyarankan agar Indonesia membidik pasar lain di luar AS, seperti Asia Tengah, Amerika Latin, maupun Afrika.
 
"Sembari mencari peluang masuk (ke AS) kita di jangka menengah seharusnya juga bisa mencari peluang di pasar-pasar yang sifatnya non tradisional supaya ekspor kita tidak terlalu terganggu," pungkas Fithra.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif