Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki. FOTO: MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki. FOTO: MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI

Menteri Teten: Pelaku Koperasi Sudah Banyak yang Tua

Ekonomi kementerian koperasi dan ukm koperasi
Ilham wibowo • 09 Januari 2020 08:20
Jakarta: Eksistensi Koperasi menghadapi tantangan berat untuk bisa kembali berkembang di Tanah Air. Modernisasi badan usaha yang dimiliki dan dijalankan oleh anggotanya untuk memenuhi kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya ini perlu segera dilakukan.
 
Menteri Koperasi dan Usaha kecil Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki menuturkan masalah tersebut jadi fokus yang bakal dibenahi di 2020. Regenerasi jadi kunci agar koperasi fungsi dan manfaatnya bisa mengikuti perkembangan zaman.
 
"Koperasi menghadapi tantangan saat ini, image-nya buruk, pelakunya sudah kebanyakan tua-tua dan anak muda tidak mau terlibat," kata Teten, ditemui di Gedung Smesco Indonesia, Jalan Jendral Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu, 8 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Koperasi yang cukup bisa bertahan di Indonesia saat ini lebih banyak di kelompok simpan pinjam dalam membantu kebutuhan dana anggotanya dalam jangka pendek. Manfaat besar koperasi yang memberikan syarat mudah dan bunga rendah tetap makin tertinggal dengan hadirnya perushaan teknologi di sektor finansial (fintech).
 
"Koperasi banyak yang tumbuh di sektor simpan pinjam dan sekarang bersaing dengan fintech yang lebih lincah," ungkapnya.
 
Teten menuturkan pemetaan masalah sudah dilakukan dua bulan terakhir untuk memodernisasi koperasi. Kelompok yang dibinanya akan segera bertransformasi dengan memprioritaskan ketertarikan milenial dan gerakan komunitas seperti pesantren.
 
"Intinya tiga hal, pertama manajemen yang profesional dan kuat, kemudian digitalisasi dalam pemanfaatan teknologi, lalu ketiga ke produk-produk unggulan dan tidak hanya di simpan pinjam," paparnya.
 
Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) juga tugasnya bakal fokus hanya di sektor koperasi. Hingga akhir 2019, realisasi penyaluran dana telah mencapai Rp1,724 triliun atau 101,42 persen.
 
Sementara untuk pengembangan sektor UKM, Teten menyebut jajarannya hanya bertindak sebagai fasilitator. Pendanaan UKM bakal difokuskan untuk memaksimalkan akses modal seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang naik hingga Rp300 triliun di 2024. Badan layanan umum untuk UKM di tiap kementerian yang jumlahnya mencapai Rp30 triliun juga bakal dioptimalkan.
 
"Di kami ada LPDB dan sekarang belum fokus, saya diperintahkan Presiden fokus untuk Koperasi, tentu ada adjusment supaya nanti 100 persen dana LPDB ini masuk di koperasi dan 70 persen masuk di koperasi produksi," tuturnya.
 
Koperasi produksi dinilai memiliki prospek yang cerah di Tanah Air yang diperuntukkan bagi produsen barang dan jasa agar bisa mendapatkan bahan baku atau ongkos lebih murah dan menjual hasil produksinya dengan harga layak. Koperasi ini menjual barang produksi anggotanya, misalnya, koperasi peternak sapi perah menjual susu sedangkan koperasi peternak lebah dengan menjual madu.
 
Selain memaksimalkan LPDB, koperasi juga bakal dipercepat pengembangannya dengan memanfaatkan pendanaan di pasar modal. Sebelum berada di papan akselerasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Teten bakal membuat daftar koperasi sehat sebagai referensi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempercepat izin.
 
"Supaya tidak beli saham jelek, Koperasi nanti posisinya sama dengan perusahaan besar dalam pencarian modal. Juga modal ventura juga banyak tertarik investasi di sektor makanan dan minuman," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif