Ilustrasi - - Foto: MI/Ramdani
Ilustrasi - - Foto: MI/Ramdani

Rupiah Diperkirakan Terus Menguat di 2019

Ekonomi bank indonesia rupiah menguat kurs rupiah
Husen Miftahudin • 04 Maret 2019 19:04
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah terus mengalami penguatan tahun ini. Meski mata uang Garuda itu dinilai masih terlalu murah (undervalued), namun ruang penguatannya justru terbuka lebar.
 
"Tahun lalu nilai tukar sempat Rp15.400 per USD, sekarang stabil di Rp14 ribuan per USD. Perkiraan kita ke depan nilai tukar rupiah akan stabil. Kita lihat sekarang ini masih terlalu murah undervalued, tapi ada potensi menguat," ujar Perry dalam sebuah diskusi di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Senin, 4 Maret 2019.
 
Menurut dia, ada empat faktor yang menopang kestabilan dan penguatan rupiah di tahun ini. Pertama, adanya aliran modal asing yang mengalir deras sehingga bisa membiayai defisit transaksi berjalan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejak awal tahun hingga 21 Februari 2019, aliran modal asing yang masuk (capital inflow) ke Indonesia mencapai Rp45,9 triliun. Jumlah itu lebih besar ketimbang capital inflow sepanjang 2018 yang hanya Rp13,9 triliun.
 
Sementara, neraca transaksi berjalan pada kuartal IV-2018 mengalami defisit sebanyak USD9,1 miliar atau 3,57 persen dari produk domestik bruto (PDB). Lebih tinggi dari kuartal III-2018 yang tercatat sebesar USD8,6 miliar atau 3,28 persen dari PDB.
 
"Aliran modal asing yang masuk ke investasi portofolio dan PMA (Penanaman Modal Asing) akan naik sehingga bisa biayai defisit transaksi berjalan. Kita masih ada surplus devisa dan itu bisa menstabilkan rupiah," ungkapnya.
 
Faktor kedua, lanjut Perry, kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, Fed Fund Rate, yang diproyeksi hanya terjadi satu kali selama 2019. "Sehingga suku bunga investasi (di Indonesia) menarik," tuturnya.
 
Kemudian ketiga, fundamental ekonomi RI semakin membaik. Terakhir, mekanisme pasar yang semakin tumbuh. Meski demikian, Perry tak menampik ketidakpastian global masih membayangi ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, ia meracik 'lima jamu' agar pertumbuhan ekonomi RI tetap kuat.
 
Pertama, adalah jamu kebijakan moneter. Jamu ini berhubungan dengan kapan bank sentral harus mendorong maupun mengendalikan likuiditas moneter. Kemudian kedua adalah jamu kebijakan makropudensial, sistem pembayaran, pengendalian pasar keuangan, serta keuangan syariah.
 
"Jadi jamu (diracik) untuk stabilitas, sementara empat jamu terakhir agar kita tetap tumbuh," pungkas Perry.
 

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif