Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meluncurkan ekspor perdana ikan patin (pangasius hypophthalmus) ke Arab Saudi. Foto: Husen Miftahudin/Medcom.id
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meluncurkan ekspor perdana ikan patin (pangasius hypophthalmus) ke Arab Saudi. Foto: Husen Miftahudin/Medcom.id

KKP Ekspor Perdana Ikan Patin ke Arab Saudi

Ekonomi kelautan dan perikanan ekspor ikan
Husen Miftahudin • 28 Mei 2019 20:05
Jakarta: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meluncurkan ekspor perdana ikan patin (pangasius hypophthalmus) ke Arab Saudi untuk kebutuhan makanan jemaah haji asal Indonesia. Ekspor perdana ini dilepas di Instalasi Karantina Puspa Agro Sidoarjo, Jawa Timur.
 
Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Nilanto Perbowo mengatakan, ikan patin hasil budidaya yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Mengingat produksinya yang semakin meningkat, ikan patin Indonesia kini diekspor ke Arab Saudi.
 
Menurut Nilanto, ekspor perdana ikan patin ke Arab Saudi buah kerja sama Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), dan SMART-Fish Indonesia yang menangkap potensi patin Indonesia untuk memenuhi kebutuhan ikan jemaah haji asal Indonesia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Komoditas patin ini sendiri baru untuk kebutuhan jemaah haji. Harapannya dengan ekspor perdana ini nantinya bisa merambah ke negara-negara lain," ujar Nilanto dalam keterangan tertulis, Jakarta, Selasa, 28 Mei 2019.
 
Sejauh ini, kebutuhan pasokan patin untuk jemaah haji Indonesia diperkirakan mencapai 540 ton. Untuk memenuhinya, pihak APCI menyiapkan pasokan sekitar 300 ton patin yang terdiri dari 150 ton cut portion dan 150 ton fillet. Dalam ekspor perdana ini dikirim sekitar 3 kontainer atau setara 63 ton, sisanya akan dikirim secara bertahap.
 
Sementara itu, Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, Muhajirin Yanis menyebutkan ikan patin dibutuhkan untuk menunjang pelayanan bagi jemaah haji sebagai sajian menu masakan bercita rasa khas Indonesia.
 
"Tahun ini sajiannya akan semakin lengkap dengan tersedianya bahan baku ikan patin asli Indonesia. Nantinya selama jemaah haji Indonesia berada di Arab Saudi, sajian makan kurang lebih sebanyak 75 kali makan sampai mereka kembali, dimana lima kali dalam seminggu mencicipi sajian menu ikan, dalam hal ini ikan patin," jelas Muhajirin.
 
Produksi ikan patin Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Pada 2018 misalnya, produksi patin Indonesia meningkat 22,2 persen menjadi 391.151 ton dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 319.966 ton.
 
Menurut Ketua Bidang Budidaya Patin APCI Imza Hermawan, peningkatan hasil budidaya patin ini terjadi berkat upaya penggunaan induk dan benih yang berkualitas untuk menekan Feed Conversion Ratio (FCR). Sehingga efisiensi produksi mengalami peningkatan.
 
"Induk dan benih berkualitas ini faktor utama penentu kesuksesan budidaya, utamanya dalam meningkatkan efisiensi pruduksi. FCR bisa ditekan, jika benih yang digunakan berkualitas," ungkapnya.
 
Pada 2017, permintaan impor catfish global mencapai 640,87 ribu ton dengan pasar utama Amerika Serikat (17%), Meksiko (9%), Tiongkok (8%), Brasil (7%), dan Arab Saudi (5%). Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, 48 persen dipasok dari Vietnam, 36 persen dari Myanmar, dan sisanya dari negara lainnya.
 
Pada 2018, total permintaan impor catfish global meningkat menjadi 641,31 ton, dengan negara tujuan utama Amerika Serikat (19,08%) dan Tiongkok (18,97%). Sedangkan permintaan impor Arab Saudi hanya sebesar 4.503 ton (0,7%) atau turun 85 persen dibandingkan 2017.
 
Melihat peluang ini, Nilanto mendorong agar para pelaku usaha dan pembudidaya patin mendongkrak produksi patin dalam negeri agar patin Indonesia bisa turut ambil bagian dalam memenuhi kebutuhan patin global.
 
"Pangsa pasar ekspor untuk patin sudah sangat jelas. Dengan potensi patin dalam negeri yang sangat tinggi, apabila kita mampu menggenjot produksi, tidak mustahil ke depan kita bisa menjadi pemain utama untuk komoditas ikan patin," pungkas Nilanto.
 

(AZF)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif