Komisaris State Government of Victoria untuk Asia Tenggara, Brett Stevens -  - Foto: Medcom.id/ Ilham Wibowo
Komisaris State Government of Victoria untuk Asia Tenggara, Brett Stevens - - Foto: Medcom.id/ Ilham Wibowo

Indonesia Siap Hadapi Situasi Perang Dagang

Ekonomi ekonomi indonesia Perang dagang Trade War
Ilham wibowo • 21 Juni 2019 20:06
Jakarta: Pemerintah negara bagian Victoria meyakini Indonesia siap menghadapi pelemahan ekonomi global saat ini. Masih ada peluang meski dibayangi dampak buruk situasi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.
 
Komisaris State Government of Victoria untuk Asia Tenggara, Brett Stevens, mengatakan Indonesia memiliki jaringan yang kuat untuk melakukan kerja sama perdagangan dengan negara lain termasuk Australia. Alternatif pemasaran produk manufaktur pun bisa meningkat seiring rampungnya Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).
 
"Kita punya peluang karena baru-baru ini kita sudah menandatangani ratifikasi IA-CEPA, itu akan menjadi kesepakan yang sangat bagus bagi perdagangan Australia dan Indonesia," kata Stevens ditemui di Union Space, Satrio Tower, Jakarta, Jumat, 21 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


IA-CEPA diyakini menjadi solusi produk-produk unggulan ekspor Indonesia menuju Australia begitupun sebaliknya. Perdagangan langsung kedua negara pun diproyeksikan dapat meningkat sekitar 17-19 persen per tahun.
 
"Perang dagang yang terjadi di Tiongkok dan Amerika Serikat lebih banyak pada daftar negatif, tapi ini merupakan peluang kita lihat yang sangat potensial untuk Victoria dan Indonesia untuk kerja sama," ungkapnya.
 
Keuntungan kerja sama perdagangan ini akan memunculkan penurunan tarif masuk yang diberikan Australia. Sehingga produk Indonesia berdaya saing tinggi denban produk impor lain di pasar Australia.
 
Menurut Stevens, negara bagaian Victoria merupakan kawasan dengan penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar di negeri kangguru. Victoria saat ini memiliki pusat inovasi dan teknologi utama dengan ekosistem startup yang kuat dengan pendapatan USD34 miliar setiap tahunnya.
 
"Kerja sama perdagangan ini juga untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan karena memunculkan pasar baru," ujarnya.
 
Perjanjian IA-CEPA akan mengeliminasi 100 persen tarif barang asal Indonesia ke Australia dan 94 persen tarif barang dari Australia ke Indonesia. Kedua negara akan memiliki akses lebih di bidang investasi dan pelayanan termasuk pergerakan bidang profesi.
 
"Saya pikir kita sudah bersiap untuk terus mengembangkan, Indonesia 10 besar pasar potensial dunia, Victoria dan Indonensia bisa saling melengkapi," katanya.
 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif