Managing Director of Aftech Mercy Simorangkir. (FOTO: dok Aftech)
Managing Director of Aftech Mercy Simorangkir. (FOTO: dok Aftech)

Mengedukasi Fintech ke Masyarakat Lewat IFF

Ekonomi fintech
Nia Deviyana • 27 Juni 2019 20:12
Jakarta: Kehadiran financial technology (fintech) menjadi salah satu bentuk dari kemajuan ekonomi digital. Meski memiliki prospek yang besar, baik regulator maupun pelaku usaha harus terus melakukan edukasi kepada masyarakat.
 
Atas inisiasi tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia selaku regulator dan Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) akan menggelar Indonesia Fintech Festival (IFF) pada 23-24 September 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan. Dalam acara tersebut tidak hanya pameran, tetapi juga menghadirkan sesi literasi keuangan bagi pengunjung.
 
"Saya menyadari bahwa kita harus menyosialisasikan fintech dengan lebih baik kepada masyarakat umum. Selama ini hal-hal positif tentang fintech seringkali kalah dengan berita negatif fintech ilegal. Saya ingin masyarakat juga mengetahui ada hal positif dari hadirnya fintech," ujar Managing Director of Aftech Mercy Simorangkir di Satrio Tower, Jakarta Selatan, Kamis, 27 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mercy menambahkan acara ini merupakan kali kedua IFF diselenggarakan. Sebelumnya, IFF diselenggarakan pada 2017 dan mendapat antusiasme dari sekitar 6.000 pengunjung.
 
"Kegiatan ini merupakan aspirasi dari industri. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menyediakan solusi dari bisnis fintech, sehingga nanti juga akan ada sharing session dengan perwakilan fintech dari luar negeri," kata dia.
 
Adapun kehadiran fintech tak hanya sebagai sarana inklusi keuangan bagi masyarakat yang belum tersentuh perbankan, tetapi juga menumbuhkan investor-investor milenial.
 
Berdasarkan data OJK per 30 April 2019, berdasarkan karakter pengguna fintech lending, mayoritas pemberi pinjaman atau lender berasal dari kalangan milenial (usia 19-34 tahun) sebanyak 69,53 persen. Sisanya lender dari kalangan usia 35-54 tahun sebanyak 27,26 persen.
 
Direktur Pengaturan, Perizinan dan Pengawasan OJK Hendrikus Passagi mengatakan, Indonesia merupakan target pasar yang menjanjikan bagi bisnis fintech P2P lending.
 
Kembali mengutip data OJK, terdapat 113 fintech P2P lending yang terdaftar di OJK. Tercatat total pinjaman dari fintech P2P lending sebesar Rp37 triliun dari 25,69 juta akun peminjam atau borrower yang bertransaksi dan 456.352 entitas lender. Lender mayoritas dari entitas dalam negeri yakni sebanyak 453.583 entitas, sisanya dari luar negeri 2.769 entitas. Mayoritas lender adalah perorangan yang terakumulasi, hanya 0,18 persen berupa badan usaha.
 
"OJK akan terus meningkatkan kualitas fintech P2P lending lewat mekanisme check dan monitoring. Salah satunya dengan mematok tingkat kredit bermasalah atau Non Performance Loan (NPL) dikisaran satu persen," tutur Hendrikus.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif