Teh menjadi salah satu produk yang ditampilkan di Natural Product Expo West, AS. (FOTO: Medcom.id/Rizal)
Teh menjadi salah satu produk yang ditampilkan di Natural Product Expo West, AS. (FOTO: Medcom.id/Rizal)

Produk Organik RI Tembus Pasar Amerika

Ekonomi indonesia-as ekspor-impor
18 Maret 2019 08:32
Jakarta: Produk organik Indonesia berhasil meraup transaksi USD7,9 juta atau setara dengan Rp114 miliar di Natural Product Expo West (NPEW), pameran produk alami terbesar di dunia yang digelar di Anaheim, Amerika Serikat (AS).
 
Hasil transaksi kali ini tercatat enam kali lebih besar daripada capaian tahun sebelumnya.
 
"Itu menunjukkan besarnya kepercayaan dan permintaan pasar AS terhadap produk Indonesia," ujar Kepala Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Los Angeles Antonius melalui keterangan resminya, akhir pekan lalu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam pameran itu, paviliun Indonesia menampilkan empat perusahaan, yakni Harendong Green Farm, Mega Inovasi Organik, Mega Organik Indonesia, dan IMC Coconut.
 
Semua perusahaan yang ikut pameran telah melewati proses kurasi yang selektif dari manajemen. Itu dilakukan guna memastikan kualitas produksi yang baik, berkelanjutan, dan memiliki sertifikasi organik yang diakui secara internasional.
 
Adapun produk-produk yang ditampilkan ialah varian teh hijau, teh hitam, dan teh oolong dari Lebak, Banten, yang telah mendapatkan sertifikasi organik dari Institute for Marketecology (IMO) Swiss.
 
Selain itu, produk organik lainnya ialah keripik yang terbuat dari 100 persen ubi alami tanpa pengawet dan berhasil memenangi Sofi Award 2018 dari Specialty Food Association.
 
Produk lain yang juga menarik perhatian pembeli ialah gula kelapa organik dan salak yang memiliki rasa serta tampilan unik. Berbagai rempah organik juga memperkaya variasi komoditas yang ditawarkan.
 
Antonius melanjutkan produk natural dan organik Indonesia masih berpotensi besar untuk terus berkembang di pasar AS yang saat ini mengutamakan gaya hidup sehat.
 
Tren vegan atau pola makan yang tidak mengonsumsi daging dan produk berbahan dasar susu (susu, keju, dan telur) menciptakan potensi pasar bagi produk makanan dan minuman yang berbahan dasar tanaman (plant based food).
 
"Diharapkan nantinya semakin banyak perusahaan Indonesia yang memanfaatkan tren natural dan organik ini sehingga produk makanan dan minuman Indonesia semakin berkualitas dan mendapat harga premium di pasar AS," jelas Antonius.
 
Momen Tepat
 
Secara terpisah, produk alat rumah tangga Tanah Air juga mencetak transaksi potensial sebesar USD1,8 juta dalam pameran International Home and Housewares (IHHS) 2019 di Chicago, AS.
 
"Ini upaya kami untuk lebih memantapkan posisi produk-produk rumah tangga di pasar AS. Kami fasilitasi para eksportir yang memiliki pengalaman untuk memperkenalkan hasil produksi mereka," ujar Kepala ITPC Chicago Billy Anugrah melalui keterangan resminya.
 
Pada 2019, pasar produk alat rumah tangga di AS diperkirakan mencapai USD73 miliar atau tumbuh 12,7 persen dari 2018 sebesar USD63 miliar.
 
Billy melanjutkan saat ini merupakan momen tepat bagi komoditas asal Indonesia masuk pasar 'Negeri Paman Sam' secara lebih masif. Pasalnya, sejak terjadi ketegangan dengan Tiongkok, AS menerapkan bea masuk tinggi untuk produk dari negara tersebut.
 
"Ini kesempatan bagi Indonesia untuk mengambil pangsa pasar itu. Selain itu, industri produk alat rumah tangga merupakan salah satu industri manufaktur padat karya menengah yang bernilai tambah sehingga dapat bermanfaat meningkatkan ekspor Indonesia yang lebih berdaya saing dan bernilai tambah," tandasnya. (Media Indonesia)
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif