Ilustrasi. (Foto: ANTARA/Joko Sulistyo)
Ilustrasi. (Foto: ANTARA/Joko Sulistyo)

Ironi Kebutuhan Pangan Warga Ibu Kota

Ekonomi ketahanan pangan
21 Desember 2017 16:04
Jakarta: Ironis. Jakarta sebagai ibu kota negara ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Hampir seluruh kebutuhan pangan di Jakarta harus didatangkan dari sejumlah daerah di Nusantara.
 
Darjamuni, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) DKI Jakarta, mengatakan, penduduk di Jakarta tidak akan mampu bertahan jika pasokan pangan dari sejumlah daerah terhenti.
 
"Karena hampir 98 persen (komoditas) pangan didatangkan dari luar daerah," ungkap Darjamuni, dalam 360, Minggu 19 November 2017.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ketidakmampuan ibu kota menyokong sendiri kebutuhan pangan untuk penduduknya membuat DKI Jakarta hanya menggantungkan nasib kepada sejumlah daerah untuk menyanggah kebutuhan pangan masyarakatnya.
 
Bahan pokok seperti daging, cabai merah, bawang merah, bahkan hingga sayur mayur masing-masing harus didatangkan langsung dari Bangka Belitung, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.
 
Semua komoditas yang didatangkan dari daerah akan disimpan dalam sebuah gudang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
 
Jarak yang jauh dengan waktu tempuh yang tak singkat membuat DKI Jakarta tidak bisa mendapatkan pasokan komoditas setiap hari. Agar pasokan pangan aman, PD Pasar Jaya mengoptimalkan fungsi ritel dan agro untuk menyimpan berbagai komoditas.
 
Dalam sebuah gudang tersebut ada ruangan-ruangan khusus yang digunakan sebagai tempat penyimpanan beragam komoditas agar awet dalam waktu lama. Sebuah ruang penyimpanan dengan nama Controlled Atmosphere Storage mampu menyimpan komoditas bawang merah dan cabai merah keriting hingga 4 bulan lamanya.
 
Mendapati kenyataan bahwa Jakarta tidak bisa menopang kebutuhan pangannya sendiri, warga ibu kota menolak menerima nasib begitu saja. Di tengah kepungan 'hutan beton', warga di Gang Hijau, Jalan Balikpapan III Kelurahan Petojo Utara, Jakarta Pusat, memanfaatkan sedikit lahan yang mereka miliki untuk bercocok tanam.
 
Meski tak mampu memenuhi kebutuhan warga DKI Jakarta pada umumnya, setidaknya para warga ini bisa mandiri dan mampu menopang kebutuhan sendiri tanpa harus selalu mengandalkan pasokan dari luar daerah. Tak hanya sayur mayur, warga di Gang Hijau ini juga menanam beragam tanaman obat.
 
"Bibitnya Kami dapat dari Dinas KPKP. Pada awalnya kosong, tidak ada tanaman sama sekali," ungkap Ketua RW 06 Kelurahan Petojo Harry Akhadyansyah.
 
Bercocok tanam dengan hanya mengandalkan pot-pot polybag pada dasarnya merupakan strategi Dinas KPKP DKI untuk mengurangi ketergantungan pangan warga akan pasokan dari daerah.
 
Upaya lain yang dilakukan tidak hanya itu, Pemerintah DKI Jakarta juga memanfaatkan lahan lain seluas 5 hektare di Kampung Ujung Menteng, Cakung, Jakarta Timur, untuk dijadikan sebagai sawah abadi.
 
"Produktivitas (sawah abadi) pada panen awal November ini cukup bagus, sekitar 7,6 ton padi per hektare," kata Kepala Pusat Pengembangan Benih dan Proteksi Tanaman Ali Nurdin, dalam kesempatan yang sama.
 
Selain sedikit mengurangi ketergantungan pangan dari luar daerah, fungsi utama sawah abadi juga sebagai laboratorium alam yang digunakan para ilmuwan pangan untuk meneliti tanaman varietas unggul dan pembibitan benih padi.
 
Cara-cara yang telah ditempuh oleh Pemerintah DKI Jakarta ini pada akhirnya diharapkan mampu untuk menjaga ketersediaan pangan di ibu kota.
 

 

(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif