BP Jamsostek: Kita Enggak Main Saham Gorengan, Untungnya Sesaat. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin
BP Jamsostek: Kita Enggak Main Saham Gorengan, Untungnya Sesaat. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin

BP Jamsostek: Kita Enggak Main Saham Gorengan, Untungnya Sesaat

Ekonomi bpjs ketenagakerjaan
Husen Miftahudin • 14 Januari 2020 14:10
Jakarta: Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek menyebutkan jumlah dana kelolaan hingga Desember 2019 mencapai Rp431 triliun. Dana kelolaan BP Jamsostek tersebut dialokasikan pada berbagai portofolio aset.
 
Direktur Pengembangan Investasi BP Jamsostek Amran Nasution mengatakan alokasi aset dari dana kelolaan tersebut ditempatkan di portofolio obligasi, jumlahnya sebesar 62 persen. Surat Berharga Negara (SBN) sebanyak 58 persen, sisanya obligasi korporasi BUMN dan swasta.
 
"Aman, aman, insyaallah aman. (Mayoritas alokasi aset dana kelolaan) Jamsostek itu fix income, itu enggak terkait dengan gonjang ganjingnya indeks," ujar Amran usai sosialisasi SIAPP82 di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa, 14 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapula deposito sebanyak 10 persen. Sementara alokasi aset dari dana kelolaan BP Jamsostek untuk saham hanya sebesar 18 persen. Itu pun hampir semua ditempatkan pada saham-saham berkinerja bagus atau blue chip yang masuk dalam daftar LQ45.
 
"Kalau pun tidak LQ45, dulu dia pernah LQ45 tapi dia keluar, contoh Garuda. Kita ada (saham) Garuda, kecil, dikit, karena BUMN kan," ungkap Amran.
 
Adapun alokasi aset dana kelolaan BP Jamsostek untuk portofolio saham yang sudah keluar dari LQ45 jumlahnya hanya 1,89 persen dari total investasi saham yang ditempatkan.
 
Amran menegaskan, BP Jamsostek hanya menempatkan investasi dana kelolaan pada aset-aset yang berkinerja baik. BP Jamsostek ogah bernasib seperti perusahaan-perusahaan asuransi yang salah langkah lantaran menempatkan investasi di saham gorengan.
 
"Kita enggak mau bermain-main di saham gorengan-gorengan, jadinya kaya begitu kan. Memang pada saat untung, untung sesaat. Tapi pada saat rugi, ya kaya begitu," tukasnya.
 
Pernyataan Amran tersebut menanggapi gagal bayarnya PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912. Teranyar, PT Asabri (Persero) yang juga dianggap lalai dalam pengelolaan investasi sehingga mengalami kerugian hingga Rp10 triliun.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif