Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: dok Kemenperin.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: dok Kemenperin.

RI-Korea Siap Kolaborasi Tumbuhkan Startup

Ekonomi startup kementerian perindustrian indonesia-korsel
Ilham wibowo • 28 November 2019 11:21
Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong penguatan kerja sama Indonesia dan Korea Selatan di bidang ekonomi khususnya dalam upaya menumbuhkan perusahaan rintisan (startup). Kolaborasi ini diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi kedua negara di tengah ketidakpastian kondisi global saat ini.
 
"Kami ingin bersama-sama menginisiasi kerja sama di antara startup dan unicorn Indonesia-Korea," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan tertulisnya, Kamis, 28 November 2019.
 
Kolaborasi yang akan dijalankan secara bilateral itu tidak sekadar mengidentifikasi sejumlah tantangan dan peluangnya saja, tetapi juga untuk membangun ekosistem inovasi bersama yang bisa mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Langkah tersebut juga dapat meningkatkan keuntungan bagi startup dan unicorn di kedua negara hingga ASEAN.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami mengapresiasi penyelenggaraan ASEAN-RoK Startup Expo 2019. Dari ajang tersebut, kami berharap terjadinya sharing informasi, pengalaman, dan best practices dalam penyusunan regulasi," paparnya.
 
Selain itu, Agus meyakini kegiatan itu dapat menghubungkan stakeholders yang relevan. Kolaborasi pun bisa saling dilakukan mengenai pameran teknologi inovasi dan produk antar startup dan mencakup perluasan jaringan antar startup, unicorn, dan investor.
 
Agus menilai saat ini merupakan waktu yang tepat bagi startup di ASEAN dan Korea untuk bersama-sama mendominasi dan memimpin lanskap startup dunia. "Kami ingin melahirkan startup dan unicorn yang lebih besar, lebih tangguh, dan berorientasi pasar," tuturnya.
 
Menperin mengungkapkan pada 2013, hanya terdapat 39 perusahaan rintisan di seluruh dunia yang dikategorikan sebagai unicorn. Adapun istilah unicorn yaitu startup yang berusia kurang dari 10 tahun dengan memiliki valuasi lebih dari USD1 miliar.
 
Enam tahun kemudian, pada pertengahan 2019, TechCrunch melaporkan sudah ada sebanyak 452 unicorn dan startup di seluruh dunia dengan valuasi kumulatif mencapai USD1,6 triliun. Pertumbuhan unicorn sangat cepat pada 2018, karena dalam waktu 15 bulan, lebih dari 170 startup di seluruh dunia mencapai status tersebut.
 
Indonesia patut bangga bahwa empat dari 10 unicorn di ASEAN berasal dari Tanah Air, yakni Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Agus optimistis unicorn dari Indonesia mampu bersaing dengan unicorn lainnya di ASEAN seperti Grab, Sea, Lazada, dan Razer dari Singapura, Revolution Precrafted dari Filipina, dan VNG dari Vietnam. Semua unicorn di ASEAN punya market value gabungan sebesar USD34 miliar, yang dikutip dari laporan Bain & Company pada 2018.
 
Sejalan dengan pertumbuhan unicorn yang cepat di Asia Tenggara, hal ini terjadi juga di Korea Selatan. Menurut CBInsights pada November 2019, terdapat 10 unicorn startupdi Korsel, di antaranya Coupang, Bluehole, Yello Mobile, Wemakeprice, Woowa Brothers, dan Viva Republica.
 
"Jumlah itu terus berkembang sejalan dengan munculnya ratusan startup baru," sebutnya.
 
Berdasarkan data CBInsights pada Januari 2019, terdapat 3.617 startup yang didirikan di wilayah Asia Tenggara. Sementara itu, startup baru (non-unicorn) baik di ASEAN dan Korea, totalnya mencapai 3.919 startup.
 
"Startup tersebut didukung dengan pendanaan kuat dan menciptakan bisnis yang out-of-the-box, sehingga mampu menunjukkan posisi mereka di dunia dan siap untuk bersaing dengan kompetisi startup yang kian ketat," pungkasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif