Petani. Foto : MI/RAMDANI.
Petani. Foto : MI/RAMDANI.

Petani Lokal Harus Diuntungkan dengan Strategi Bulog

Ekonomi bulog
Ilham wibowo • 27 November 2019 20:49
Jakarta: Upaya Perum Bulog menyasar pasar ekslusif dengan rencana mengambil alih pengelolaan jatah tunjangan pangan aparatur negara dinilai positif. Kepastian penyerapan beras kualitas premium Bulog ini perlu berpihak kepada petani lokal.
 
"Kalau kepastian pasar itu bisa diambil harusnya Bulog bisa lebih untuk bantu petani," kata Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah kepada Medcom.id, Rabu, 27 November 2019.
 
Said mendukung penuh langkah Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) yang bakal turut bersaing dengan perusahaan swasta di sektor komersial. Bulog punya kelebihan lantaran jaringan gudang yang memadai di berbagai daerah untuk mengakomodasi kebutuhan pangan seluruh aparatur negara baik TNI-Polri maupun ASN.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pilihan yang logis menyasar segmen pasar yang khusus salah satunya mungkin ASN atau TNI-Polri. Saya pikir selama tidak merugikan dalam arti tidak ada unsur pemaksaan kepada petani ini menjadi wajar saja sebagai bentuk usaha dan perlu dipertimbangkan juga untuk diteruskan," ungkap Said.
 
Serapan beras premium Bulog untuk aparatur negara di Tanah Air yang diperkirakan jumlahnya mencapai 5 juta orang itu pun mesti memberikan keuntungan maksimal bagi petani. Saat fokus di sektor komersial, Bulog bisa leluasa membeli beras atau gabah petani saat kondisi pasar di atas Harga Pokok Penjualan (HPP).
 
Dengan cara ini, Bulog bisa bersaing dengan jaringan para tengkulak yang seringkali memainkan harga gabah saat panen raya. Serapan gabah petani lokal pun bisa lebih berkualitas dengan imbal harga yang tinggi dibandingkan tawaran harga beli dari tengkulak.
 
"HPP kan hanya Rp3.600-Rp3.700 sementara di tengkulak ada di harga Rp4-5 ribu itu gabah, Bulog tidak mungkin dapat gabah dalam jumlah banyak kalau memaksakan beli dengan harga HPP dan yang rugi petani," ungkapnya.
 
Bulog harus siap menyediakan dana besar untuk bisa meraih lebih banyak serapan produksi gabah petani. Strategi menyasar pasar ekslusif tersebut diyakini bisa terus berkembang dengan adanya rencana kerja sama Bulog dengan perusahaan BUMN maupun swasta dalam mengisi pengelolaan tunjangan pangan karyawan.
 
"Nah kalau skema ini di luar HPP logikanya pasti Bulog akan bermain dengan harga umum atau sama dengan harga yang berlaku pada pedagang lain, dengan demikian harga yang diterima petani dari pembelian Bulog harusnya lebih tinggi, itu lebih baik," tuturnya.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif