Ilustrasi. Foto : MI/RAMDANI.
Ilustrasi. Foto : MI/RAMDANI.

Cara BI Dukung Pengembangan Pariwisata di NTT

Ekonomi pariwisata bank indonesia
Angga Bratadharma • 09 Desember 2019 18:54
Labuan Bajo: Bank Indonesia (BI) ikut serta mengembangkan pariwisata di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dilakukan dengan pendekatan 5A 2P yakni atraksi, amenitas, akses, people, dan promotion. Keterlibatan BI ini dengan harapan mendukung perekonomian NTT yang nantinya bisa berefek terhadap meningkatnya kesejahteraan masyarakat setempat.
 
"Dalam rangka melaksanakan program strategis BI, Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT melaksanakan pengembangan desa wisata di Kampung Melo, Desa Liang Ndara," ungkap Asisten Direktur Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT Rut W. Eka Trisilowati, di Labuan Bajo, NTT, Senin, 9 Desember 2019.
 
Untuk atraksi dari 5A 2P, ia menjelaskan ada beberapa tempat, yaitu destinasi ekslusif Pulau Komodo-Padar dan destinasi bawah laut, destinasi massal Pulau Rinca, peningkatan destinasi kampung adat Waerebo dan danau Kelimutu, penataan kampung adat Bena, pengelolaan wisata religius Samana Santa, penataan kawasan Pantai Marina-Bukit Pramuka, dan lain-lain.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sedangkan amenitas yakni pembangunan cottage, homestay, restoran dan gerai ekonomi kreatif. Target tambahan kamar hingga 2023 sebanyak 1.090 kamar. Kemudian pemenuhan kebutuhan produksi untuk restoran, dan pemenuhan kebutuhan industri non makanan dan industri kreatif.
 
Sementara akses yakni peningkatan jalan provinsi kabupaten/kota, dan penyediaan transportasi ke destinasi wisata. Untuk people yaitu pelatihan koki dan tour guide, manajemen operasional cottage oleh Bumdes, dan lain-lain. Kemudian promotion yakni kerja sama perhotelan digital untuk marketing, dan promosi internasional, nasional, dan festival.
 
Adapun Pemda NTT telah merumuskan framework pengembangan pariwisata yang dinamai 'Pariwisata Estate in the Ring of Beauty'. Dinas Pariwisata Provinsi NTT telah mengidentifikasi 22 kawasan pariwisata prioritas yang akan dikembangkan dalam rangka mengejar target 3 juta kunjungan wisata di 2023.
 
"Tujuh kawasan pariwisata ditargetkan dilaksanakan pada 2019," ucapnya.
 
Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT pada triwulan III-2019 mencapai 3,87 persen (yoy) atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2019 yang mencapai 6,58 persen. Dari sisi pengeluaran, perlambatan dipengaruhi oleh melemahnya konsumsi rumah tangga dan pemerintah seiring belum optimalnya realisasi belanja pemda.
 
"Dari sisi lapangan usaha, perlambatan dipengaruhi oleh pertanian, konstruksi, dan akomodasi makan minum," ucapnya.
 
Pada November 2019, Provinsi NTT mengalami inflasi sebesar 0,32 persen (mtm), melanjutkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,11 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi Provinsi NTT pada November 2019 mencapai 1,70 persen (yoy) atau minus 0,14 persen (ytd).
 
"Inflasi terutama disebabkan oleh kenaikan harga kelompok bahan makanan antara lain ikan tembang, daging ayam ras, dan sayur-sayuran di tengah penurunan harga angkutan udara," tukasnya.
 
Lebih lanjut, BI juga turut berkomitmen untuk terus mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Nusa Tenggara Timur melalui pendekatan klaster dengan tujuan pengendalian inflasi dan pengembangan potensi ekonomi lokal. Saat ini, jumlah klaster UMKM yang didampingi Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT adalah 10 klaster UMKM.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif