Memanfaatkan Peluang Ekspor RI dari Jamaah Haji

Ilham wibowo 29 November 2018 11:35 WIB
eksporhaji
Memanfaatkan Peluang Ekspor RI dari Jamaah Haji
Ilustrasi. (FOTO: MI/Adam Dwi)
Jakarta: Arab Saudi merupakan salah satu pasar nontradisional yang cukup prospektif. Namun nilai ekspor produk Indonesia ke negara tujuan utama umat Islam di seluruh dunia itu belum cukup menggembirakan.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Arlinda memaparkan potensi peningkatan ekspor Indonesia yang dapat diraih dengan memanfaatkan kebutuhan jamaah haji Indonesia. Selama ini seluruh kelompok terbang jamaah dari Tanah Air menghabiskan belanja USD56,7 juta per tahun atau 4,11 persen dari total nilai ekspor Indonesia ke Arab Saudi di 2017.

Perhitungan ini berdasarkan jumlah jamaah haji reguler Indonesia di 2018 yang mencapai 204 ribu orang dan pengeluaran sebesar USD3 untuk setiap kali makan. Karenanya, diperlukan langkah strategis guna memanfaatkan peluang yang tercipta dari kondisi tersebut.

Kemendag baru-baru ini telah menyelenggarakan pertemuan teknis peningkatan produk ekspor ke Arab Saudi pada musim Haji 2019. Kegiatan pertemuan diikuti puluhan peserta yang sebagian besar adalah pengusaha dan produsen makanan, minuman, dan peralatan hotel.

"Pertemuan ini dilaksanakan dalam rangka menyatukan langkah dengan para pemangku kepentingan, termasuk dunia usaha Indonesia, untuk memanfaatkan peluang ekspor melalui pemenuhan kebutuhan haji Indonesia," ujar Arlinda melalui keterangan resmi, Kamis, 29 November 2018.

Menurut data Kementerian Agama, jumlah jamaah haji Indonesia pada 2018 sebanyak 221 ribu jamaah. Direktur Penyelenggaraan Haji Luar Negeri Kementerian Agama Sri Ilham Lubis menyebut jumlah tersebut akan terus bertambah hingga mencapai 250 ribu jamaah seiring dengan perluasan Masjidil Haram. Sehingga pemanfaatannya mesti dilakukan dengan optimal.

Dari kegiatan pertemuan teknis ini diperoleh beberapa informasi yang perlu disikapi untuk meningkatkan daya saing, antara lain kekurangan bahan baku dari Indonesia di Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan jamaah, minimnya jumlah pelaku usaha Indonesia yang menyuplai bahan baku makanan dan minuman yang dibutuhkan, dan kurangnya pemahaman terhadap standar dan regulasi yang harus dipenuhi.

Peran Indonesia dalam memenuhi kebutuhan jamaah hajinya juga dinilai belum signifikan. Kebutuhan berupa makanan, minuman, dan perlengkapan hotel selama ini sebagian besar dipasok dari negara lain.

"Saat ini, Kementerian Agama telah mensyaratkan perusahaan katering Arab Saudi yang ditunjuk untuk menyediakan menu makanan Indonesia. Sayangnya, sebagian besar bahan baku yang digunakan dalam penyediaan menu makanan tersebut bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Untuk itu, diperlukan langkah strategis dari berbagai pemangku kepentingan di Indonesia agar kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari Indonesia," ungkap Ilham Lubis.




Ilham juga menyampaikan, pemerintah Indonesia telah bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan katering di Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji Indonesia selama berada di Arab Saudi. Sedangkan untuk pengadaan produk maupun bahan baku di wilayah Arab Saudi dilakukan oleh para importir. Para pelaku usaha pun diharapkan dapat secara aktif menjalin komunikasi dengan importir dan katering Arab Saudi.

Selain itu, untuk menjamin ketersediaan produk Indonesia di Arab Saudi perlu dicari solusi agar tercipta harga yang lebih kompetitif. Saat ini, harga produk Indonesia di Arab Saudi lebih tinggi 35-40 persen dibandingkan dengan harga produk serupa dari negara lain. Biaya logistik yang dikeluarkan pengusaha Indonesia saat ini masih relatif tinggi dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan pengusaha dari negara lain.

Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Marolop Nainggolan menuturkan pihaknya bakal berkoordinasi dengan lintas kementerian seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, BNP2TKI. Pasalanya, potensi lain yang dapat digarap Indonesia ada pada pemanfaatan kebutuhan tenaga terampil seperti juru masak, petugas hotel, dan tenaga pengemudi bus jamaah haji.

"Berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait lainnya untuk menyusun rencana teknis memanfaatkan peluang pemenuhan kebutuhan jemaah haji. Kita optimistis dalam waktu singkat akan terjadi peningkatan ekspor Indonesia ke Arab Saudi sehingga dapat memperkecil defisit neraca perdagangan kedua negara," paparnya.

Selain itu, disampaikan pula oleh Marolop bahwa perlu juga dilakukan diplomasi ekonomi yang lebih intensif dengan pemerintah Arab Saudi. Hal ini dilakukan agar berbagai hambatan nontarif dapat dihilangkan.

"Dalam hal jumlah, jamaah dari Indonesia adalah yang terbesar, sehingga wajar apabila pemerintah Indonesia meminta kemudahan dalam pelayanan jamaahnya," pungkas Marolop.

Perkembangan neraca perdagangan Indonesia-Arab Saudi terus menunjukan penurunan pada beberapa tahun terakhir. Pada periode Januari-September 2018, nilai ekspor Indonesia ke Arab Saudi tercatat sebesar USD921,48 juta atau turun 14,44 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tercatat USD1,07 miliar.

Tren ekspor nonmigas Indonesia ke Arab Saudi pada periode 2013-2017 menunjukkan penurunan yang cukup signifikan sebesar 8,98 persen. Pada 2017, ekspor nonmigas Indonesia ke Arab Saudi tercatat sebesar USD1,38 miliar, pada 2016 sebesar USD1,33 miliar, di 2015 sebesar USD2,06 miliar, 2014 sebesar USD2,16 miliar, dan 2013 sebesar USD1,73 miliar.



(AHL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id