Wakil Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto. (FOTO: dok ist)
Wakil Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto. (FOTO: dok ist)

Menggaet Milenial Menjadi Petani Kopi

Ekonomi petani kementerian pertanian kopi
Ade Hapsari Lestarini • 14 Februari 2019 20:23
Jakarta: Strategi pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menggaet anak muda menjadi petani patut diapresiasi.
 
Kendati Wakil Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto menilai kesejahteraan petani mungkin masih menjadi momok bagi generasi milenial untuk mau terjun menjadi petani.
 
"Sangat perlu ada regenerasi, itu bisa dilakukan namun dengan syarat harus bisa memberi pemasukan yang bisa diandalkan. Orang-orang akan banyak masuk ke situ kalau pekerjaan itu dapat menjamin hidup mereka," kata dia dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis, 14 Februari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, saat ini di daerah-daerah tertentu itu sudah mulai ada anak-anak muda yang jadi petani kopi, karena industri kopi sangat menjanjikan.
 
Pranoto berharap agar orang-orang yang ingin berbisnis kopi tidak hanya sekadar membuka cofee shop. Karena salah satu yang menjadi persoalan dalam industri kopi di Indonesia adalah minimnya regenerasi petani kopi.
 
"Kita berharap dengan berkembangnya industri kopi yang semakin menjanjikan, akan banyak anak muda yang beraih menjadi petani kopi," katanya.
 
Menjamurnya coffee shop dan mikro roosters di kota-kota besar membuat perkembangan industri kopi di Tanah Air melesat. Masyarakat awam pun sekarang sudah mulai mengenal jenis-jenis kopi yang memiliki kualitas nomor satu.
 
"Perkembangan bisnis sangat pesat apalagi di Indonesia. Tumbuhnya kafe-kafe kecil sangat berperan bagi masyarakat awam untuk mengenal kopi dengan kualitas bagus. Sampai sekarang tetap banyak yang diekspor karena ya kuantitasnya banyak sekali," jelasnya.
 
Seperti diketahui, Kementerian Pertanian (Kementan) tengah melakukan upaya-upaya agar usaha pertanian semakin menarik bagi generasi muda, misalnya melalui Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian.
 
Kementan sempat meluncurkan gerakan Santri Tani di Lapangan Pasar Munding, Desa Kamulyaan, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.Ketika itu Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan peluncuran ini sekaligus rangkaian pengembangan program gerakan satu juta petani milenial yang tersebar di seluruh Indonesia.
 
"Pemerintah juga sudah melakukan upaya lain seperti bimbingan teknik budidaya pertanian, demonstration plot, dan distribusi sarana produksi seperti benih padi, kopi, tanaman perkebunan seperti cabai sayuran dan buah-buahan dengan alat alsintan berupa traktor," ujar Amran, beberapa waktu lalu.
 
Ia menambahkan pengembangan satu juta petani milenial sudah mengalami berbagai kemajuan. Di Jawa Barat pemerintah telah melibatkan 24 ribu santri tani yang tergabung dalam 800 kelompok santri tani.
 
Menurutnya sejauh ini, santri tani sudah tersebar di seluruh provinsi mulai dari Aceh sampai Papua. Total pesertanya bahkan mencapai 5.760 dengan rata-rata usia 19-39 tahun.
 
"Secara spesifik, tujuan diselenggarakan gerakan petani milenial adalah membuka lapangan kerja dan mengurangi pengangguran, menekan kemiskinan dan urbanisasi, serta menumbuhkan wirausaha muda pertanian (Agro-entrepreunership)," tutur Amran.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi