Ilustrasi (MI/RAMDANI)
Ilustrasi (MI/RAMDANI)

Strategi Pegadaian Bersaing dengan Fintech

Ekonomi pegadaian
Nia Deviyana • 27 Juli 2019 07:32
Yogyakarta: PT Pegadaian (Persero) menyadari bisnis gadai secara konvensional menjadi tidak relevan di tengah era revolusi industri 4.0. Apalagi, kini semakin banyak hadir financial technology (fintech) lending yang menuntut Pegadaian harus mampu berkompetisi.
 
Direktur Pemasaran dan Pengembangan Produk Pegadaian Harianto Widodo menuturkan perkembangan revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan digitalisasi membuat pola bisnis pegadaian yang tradisional harus berubah. Pasar milenial yang kini bertumbuh pesat harus mampu diikuti perusahaan.
 
"Model gadai tradisional itu sudah turun pertumbuhannya, karena ada perilaku milenial. Disamping juga semakin banyaknya pemain di industri gadai," ujarnya dalam media gathering & workshop di Pesonna Hotel, Yogyakarta, Jumat, 26 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tantangan semakin berat, terlebih adanya perubahan regulasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memberikan kewenangan bagi lembaga pembiayaan (multifinance) untuk melakukan refinancing.
 
"Jadi regulasi di industri perbankan, multifinance, gadai, semakin lama overlap-nya semakin tinggi. Artinya ujung-ujungnya siapa yang mempunyai layanan terbaik, dan yang harganya kompetitif maka akan eksis di industri itu," katanya.
 
Untuk bisa bertahan, Pegadaian memiliki strategi lewat transformasi perusahaan di lima hal atau yang disebut G-Star. Pertama grow core yaitu fokus di bisnis utama sebagai pemain industri gadai. Kedua, grab new, mengembangkan bisnis-bisnis baru.
 
"Termasuk pengembangan di syariah yang terima agunan tanah meski enggak ada bangunan. Secara ketentuan ini dibolehkan asalkan debitur punya usaha yang berjalan positif," tuturna.
 
Ketiga groom talent, yakni meningkatkan kualitas pekerja di perseroan. Keempat Gen Z Technology yaitu mengembangkan bisnis pegadaian dengan digitalisasi, sehingga bisa mengimbangi perkembangan teknologi.
 
"Terakhir (kelima), great culture. Tanpa kultur yang baik dan dipahami semua elemen maka hasil (transformasi) akan kurang optimal," pungkasnya.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif