Ilustrasi (MI/Amiruddin Abdullah Reubee)
Ilustrasi (MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

Industrialisasi Udang Dinilai Perlu Dipercepat

Ekonomi perikanan kelautan dan perikanan
07 Mei 2019 13:02
Palu: Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua, Hasanuddin Atjo menilai industrialisasi udang di Indonesia perlu dipercepat. Hal itu menjadi penting karena akan memberikan nilai tambah yang berlipat ganda terhadap nilai udang di tengah masih lambannya peningkatan produksi.
 
"Industrialisasi sangat penting untuk meningkatkan nilai tambah, tetapi investasi teknologi di bidang produksi dan industri pengolahan juga harus digenjot," katanya, seperti dikutip dari Antara, di Palu, Selasa, 7 Mei 2019.
 
Ia memberi contoh di Sulawesi Selatan, pembuatan shrimp burger bisa meningkatkan nilai tambah udang dari USD0,25 menjadi USD2, dan masih banyak lagi jenis industri yang mampu meningkatkan nilai tambah udang dalam jumlah yang signifikan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut doktor perikanan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar itu, ada tiga prinsip industrialisasi udang yang harus dikerjakan secara simultan yakni adanya intervensi kebijakan dari pemerintah, pengembangan atau inovasi teknologi serta terbukanya pasar.
 
Hasanuddin Atjo yang juga Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng itu menyebutkan intervensi pemerintah masih perlu terus digenjot untuk menyiapkan infrastruktur yang memadai serta akses permodalan ke lembaga keuangan dengan bunga yang lebih menarik.
 
"Di Malaysia, bunga bank hanya sekitar empat persen, tapi di Indonesia masih 12 persen. Ini sebuah tantangan dalam meningkatkan investasi di sektor produksi dan industrialisasi/pengolahan," ujarnya.
 
Dari sisi inovasi, kini sudah tersedia teknologi budidaya yang paling produktif di dunia yakni teknologi supra intensif Indonesia yang mencatat produktivitas 153 ton/hektare. Teknologi ini pun telah direkayasa sedemikian rupa sehingga kini telah diluncurkan budidaya supra intensif skala kecil yang investasinya rendah namun produktivitasnya tinggi.
 
"Sehingga bisa dikembangkan secara masif oleh pengusaha kecil dan menengah," ujar Atjo.
 
Mengenai pasar, kata pengusaha tambak udang modern di Kabupaten Barru, Sulsel ini, tidak ada masalah karena pasar udang Indonesia terbuka lembar, belum lagi pasar di dalam negeri untuk menyuplai industri pengolahan yang bisa meningkatkan nilai tambah berlipat kali.
 
"Meskipun bisnis udang ini menghadapi risiko besar yakni intervensi pemerintah belum maksimal, bunga bank masih tinggi dan margin relatif rendah sektiar 20 sampai 40 persen, namun investasi cenderung meningkat. Ini menunjukkan bahwa sektor perudangan merupakan masa depan Indonesia bila kendala-kendala itu bisa diatasi secara bertahap," pungkasnya.
 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif