Menteri KKP Susi Pudjiastuti (Foto: Kementerian KKP)
Menteri KKP Susi Pudjiastuti (Foto: Kementerian KKP)

Menteri Susi Ajak Masyarakat Selayar Tinggalkan Destructive Fishing

Ekonomi perikanan kelautan dan perikanan
Angga Bratadharma • 23 April 2019 08:32
Jakarta: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meminta praktik destructive fishing atau penangkapan ikan dengan cara merusak yang sering dilakukan masyarakat Sulawesi Selatan bisa dihentikan agar tidak menambah kerusakan alam. Pasalnya, destructive fishing ini selain mengancam keberadaan ikan di alam, juga mengancam keberlanjutan terumbu karang.
 
"Pemulihan terumbu karang yang rusak akibat destructive fishing ini membutuhkan waktu yang sangat panjang," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, seperti dikutip dari keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Selasa, 23 April 2019.
 
Ia menjelaskan pemulihan terumbu karang ini tidak mudah karena satu tahun coral hanya tumbuh dengan catatan jika daerahnya subur dan airnya bagus. "Pemulihan terumbu karang ini tidak mudah karena satu tahun coral itu hanya tumbuh paling kalau daerahnya subur airnya bagus lima cm pun tidak. Rata-rata 1,5 - 2,5 cm saja.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Padahal, lanjut Susi, keberadaan terumbu karang ini sangat penting bagi ekosistem laut. Di terumbu karang ini ikan bertelur, beranak-pianak, dan berkembang biak. Artinya menjaga terumbu karang sama saja dengan menjaga keseimbangan laut demi masa depan yang lebih baik lagi.
 
"Ikan sama dengan kita, mereka tidak mau pacaran di gelombang tinggi besar. Mereka akan cari tempat teduh untuk beranak pianak. Mereka juga seperti ibu yang melepas anaknya dengan kasih sayang dengan pengetahuan bahwa anaknya di situ akan aman. Tidak mungkin dia akan memijah di gelombang besar atau di laut lepas," kata Susi.
 
Adapun dalam rangka optimalisasi pengelolaan potensi kelautan dan perikanan di daerah, rombongan Kementerian KKP dipimpin oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan kunjungan ke Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).
 
Setelah melakukan giat laut di Pantai Sunari, Menteri Susi didampingi Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Brahmantya Satyamurti Poerwadi dan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap M Zulficar Mochtar melakukan diskusi bersama Bupati Kepulauan Selayar Muh Basli Ali, Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar Marjani Sultan, dan perangkat pemerintah daerah.
 
Berdasarkan data KKP, Kabupaten Kepulauan Selayar memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar, di antaranya 260 jenis terumbu karang, 12 jenis lamun, ekosistem mangrove, pulau-pulau kecil nan cantik, termasuk atoll terbesar kedua di dunia, yaitu Taka Bonerate.
 
Dengan potensi tersebut, Kabupaten Kepulauan Selayar didorong untuk mengoptimalkan potensi perikanan, pariwisata, dan potensi maritim lainnya. Dalam hal pengelolaan potensi perikanan, selain Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing, destructive fishing di Kabupaten Kepulauan Selayar menjadi salah satu isu yang sudah lama menjadi perhatian KKP.
 
Menurut Susi sebagai negara kepulauan dengan luas perairan 71 persen dari luas negara, masyarakat Indonesia harus bangga dapat kaya dan sejahtera dari sumber daya yang disediakan alam. Namun, ia menilai, kesalahan dalam pengelolaan sumber daya alam itu dapat menyebabkan apa yang dimiliki tidak berpengaruh apa-apa terhadap kesejahteraan masyarakat.
 
Karena itu, tambahnya, laut sebagai salah satu sumber daya alam yang dimiliki Indonesia harus dikelola dengan baik dan dijadikan masa depan bangsa. "Saya yakin orang Sulsel ini sadar laut itu memberikan mereka hidup, laut membawa mereka ke mana-mana, dan mempunyai apa saja karena dari laut. Dan saya lihat salah satu wilayah yang sadar itu Sulsel,” pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif