Ilustrasi. FOTO: dok MI.
Ilustrasi. FOTO: dok MI.

Pengusaha Minta Ekonomi Indonesia Didesain Kuat

Ekonomi dunia usaha ekonomi indonesia
Angga Bratadharma • 12 September 2019 12:10
Jakarta: Pengusaha Energi Syarif Bastaman menilai ekonomi Indonesia harus didesain dengan kuat. Bahkan, harus ada komunikasi yang kuat antara pelaku usaha dan pemerintah agar tercapai keselarasan baik dari sisi pembangunan bisnis di dunia usaha maupun pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik lagi.
 
Dirinya sangat menekankan dengan kondisi global yang sedang tidak menentu ditambah adanya perang dagang maka ekonomi Indonesia harus didesain dengan kuat dan koordinasi yang baik. "Bukan sekadar pemerintah bicara di sana lalu pengusaha bicara di sini. Tidak nyambung," kata Syarif, di Hotel Millenium, Jakarta, Kamis, 12 September 2019.
 
Hal itu ia anggap penting agar ekonomi Indonesia tidak terseret dalam pelemahan ekonomi global. Bahkan, dirinya menilai, Indonesia harus lebih visioner membuat ekosistem perekonomian sehingga ketika terjadi ketidakpastian ekonomi dunia, ekonomi di Tanah Air tidak terlalu berpengaruh.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita harus forward looking buat ekosistem ekonomi kita sendiri sehingga kita bisa cuek-cuek saja dengan krisis global. Kita bangun sistem kita secara kuat. Artinya kita beli dari lokal dan kita jual ke lokal. Kalau mau keluar maka pastikan kita punya keunggulan komparatif," tegasnya.
 
Di sisi lain, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus menilai berbagai gejolak global yang semakin besar dan penuh ketidakpastian tidak akan sampai menyebabkan perekonomian Indonesia mengalami resesi. Hal ini sejalan dengan kuatnya fondasi perekonomian Indonesia.
 
"Saya kira ekonomi kita melambat itu jelas karena ekonomi global namun tidak sampai resesi. Masih tumbuh positif tapi positifnya masih jauh dari optimal,” kata Heri.
 
Heri menuturkan hal tersebut terjadi karena ekonomi Indonesia lebih banyak ditopang oleh faktor domestik yaitu konsumsi rumah tangga yang mencapai sekitar 80 persen, sedangkan faktor internal seperti ekspor, impor, dan investasi hanya berkontribusi sebanyak 20 persen.
 
Artinya adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok maupun resesi di Turki tidak akan terlalu memengaruhi pertumbuhan ekonomi secara signifikan sebab Indonesia merupakan negara terbuka namun tidak terlalu bergantung pada asing.
 
"Ekonomi kita tumbuh 5,05 persen itu paling besar karena ekonomi domestiknya masih kuat seperti konsumsi rumah tangga yang menjadi andalan utama bagi pertumbuhan ekonomi kita," pungkasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif