Direktur Riset Citiasia Achmad Yunianto - - Foto: Medcom.id/ Ilham Wibowo
Direktur Riset Citiasia Achmad Yunianto - - Foto: Medcom.id/ Ilham Wibowo

Survei: Kinerja OJK Belum Memuaskan

Ekonomi ojk
Ilham wibowo • 28 Januari 2020 16:23
Jakarta: Survei Citiasia melaporkan Kinerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dianggap belum memuaskan dalam pengelolaan risiko industri keuangan. Pelaku industri menilai selama delapan tahun hadir di Tanah Air, OJK masih lemah dalam menjalankan fungsi pengaturan, pengawasan, pemeriksaan dan perlindungan konsumen.
 
"Indeks kinerja OJK secara keseluruhan mencapai 59,3 persen," kata Direktur Riset Citiasia Achmad Yunianto dalam sebuah diskusi di kawasan Menteng Jakarta Pusat, Selasa, 28 Januari 2020.
 
Secara komposit, indeks persepsi kinerja pengaturan dan pengawasan kelembagaan secara keseluruhan mencapai 63,2 persen, pengaturan dan pengawasan kesehatan 59.3 persen, pengaturan dan pengawasan kehati-hatian 66,5 persen, pemeriksaan 59,9 persen, dan perlindungan konsumen 58,8 persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dilihat dari kelompok industri, lembaga pembiayaan memiliki indeks persepsi kinerja OJK keseluruhan terendah yakni 51,9 persen, diikuti kelompok perbankan 55 persen, lembaga jasa keuangan khusus 63,3 persen dan kelompok asuransi 65,2 persen," paparnya.
 
Lebih lanjut, dalam hal pengaturan dan pengawasan kelembagaan, hanya separuh responden dari perbankan atau 53,3 persen dan lembaga pembiayaan 55,6 persen yang menilai OJK sudah berkinerja maksimal. Capaian tersebut masih lebih rendah dibandingkan responden industri asuransi (67,4 persen) dan praktisi jasa keuangan khusus (75,5 persen) yang sudah menganggap kinerja OJK cukup baik.
 
"Para praktisi lembaga keuangan menilai kinerja pengaturan dan pengawasan kelembagaan OJK tidak maksimal karena persepsi bahwa OJK mempersempit pengembangan dan ruang inovasi industri keuangan," kata Achmad.
 
Menurutnya, keluwesan dalam mengatur keseimbangan antara pengelolaan risiko dan pengembangan industri, serta keberlanjutan usaha dirasakan masih kurang mendapatkan perhatian dalam regulasi dan implementasi fungsi ini. Praktisi perbankan juga menyoroti belum jelasnya arah pengembangan industri, lemahnya penguatan pemahaman bisnis dan teknis regulator,
 
"Belum maksimalnya peran mediasi dan edukasi regulator bagi pemegang saham," ucapnya.
 
Terkait fungsi pengaturan dan pengawasan kesehatan lembaga keuangan, separuh praktisi kelompok perbankan (55,0 persen), dan tiga dari lima praktisi asuransi (63,0 persen), lembaga pembiayaan (59,3 persen), lembaga jasa keuangan khusus (61,2 persen) menganggap OJK memiliki kinerja baik. Kurangnya daya saing dan efisiensi menjadi faktor yang berpengaruh dominan terhadap persepsi kinerja pengaturan dan pengawasan kesehatan.
 
"Persaingan sehat dan keberlanjutan usaha dirasakan para praktisi belum mendapatkan porsi perhatian memadai dalam beleid (regulasi) yang dikeluarkan dan dilaksanakan oleh OJK," tambah dia.
 
Sementara fungsi pengaturan dan pengawasan kehati-hatian lembaga keuangan, performa OJK dianggap lebih baik dibanding dua aspek sebelumnya. Sekurangnya tiga dari lima praktisi kelompok perbankan (58,3 persen) dan asuransi (63,0 persen), serta tiga dari empat praktisi kelompok lembaga pembiayaan dan lembaga jasa keuangan khusus (74,1 persen dan 75,5 persen) mengakui OJK berkinerja baik.
 
"Kalangan lembaga pembiayaan menyoroti pentingnya kolaborasi dengan asosiasi guna meningkatkan kemampuan manajemen risiko. Sementara kalangan perbankan memandang perlunya sistem pengawasan yang mampu mendeteksi adanya penyimpangan," tuturnya.
 
Adapun hasil survei dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif pada periode 28 November sampai dengan 11 Desember 2019. Sebanyak 182 responden ikut terlibat yakni praktisi industri keuangan, dengan posisi setingkat manajer ke atas dari 114 institusi jasa keuangan, baik perbankan, asuransi, lembaga pembiayaan, dan lembaga jasa pembiayaan khusus.
 

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif