NEWSTICKER
Bahan bakar paling realistis untuk Indonesia adalah ethanol dan gas. dok medcom.id
Bahan bakar paling realistis untuk Indonesia adalah ethanol dan gas. dok medcom.id

Pertamina Tindak Lanjuti Keluhan Penggunaan Biodiesel di Pembangkit

Ekonomi pertamina pln
Suci Sedya Utami • 29 Januari 2020 19:48
Jakarta: Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menegaskan akan menindaklanjuti keluhan PT PLN (Persero) terkait penggunaan biodiesel dengan kadar yang lebih tinggi di pembangkit.
 
Nicke mengatakan Pertamina akan mencoba membenahi dan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang timbul karena penggunaan biodiesel atau campuran solar dengan bahan bakar nabati (BBN) berupa minyak kelapa sawit.
 
"Mengenai customer service yang kami terima dari PLN akan segera kami tindak lanjuti dengan seluruh upaya yang akan kami jalankan, kami akan terus tingkatkan kualitas khususnya water content (kadar air) dari B30 ini," kata Nicke di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 29 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nicke mengatakan sebelum implementasi biodiesel B20 di 2018, pemerintah melalui Kemenko Perekonomian telah memanggil seluruh pemangku kepentingan yakni industri besar termasuk PLN terkait program tersebut. Semua ditanya mengenai persiapan untuk menggunakan biodiesel.
 
Saat itu dua yang mendapat pengecualian yakni PT Freeport Indonesia karena wilayah operasinya berada di dataran tinggi sehingga dikhawatirkan jika menggunakan biodiesel akan terjadi pembekuan pada mesin-mesinnya.
 
Kemudian alat utama sistem senjata (Alutsista) TNI yang memang sudah berusia tua. "Keduanya tidak bisa menggunakan B20. Tapi untuk industri lain menyatakan siap," kata Nicke.
 
Sehingga otomatis industri lainnya termasuk PLN dianggap siap untuk menerapkan atau menggunakan biodiesel.
 
Sebelumnya PLN menyatrakan penggunaan minyak kelapa sawit (CPO) murni dengan kadar 100 persen pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) existing nyatanya menimbulkan risiko.
 
Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan risiko yang ditimbulkan pada pembangkit existing apabila meminum CPO 100 persen yakni menimbulkan emisi yang lebih besar ketimbang ketika menggunakan solar murni.
 
"Hasil penelitian kami, PLTD dengan menggunakan CPO 100 persen malah mengeluarkan emisi lebih besar 1,5 kali lipat dibandingkan solar biasa," kata Zulkifli.
 
Selain itu, kata dia, penggunaan CPO 100 persen membuat PLN harus mengeluarkan kocek tambahan untuk perawatan lantaran membuat banyak residu pada pembangkit.
 
"Ada residu dari penggunaan 100 persen CPO. Malah membuat komponen PLTD menjadi rusak," tutur Zulkifli.
 
Kendati demikian, lanjut dia, bukan artinya PLN tidak bisa menggunaka CPO murni untuk bahan baku pembangkit. Menurut dia, CPO cocok diterapkan untuk pembangkit anyar yang memang dirancang menggunakan bahan bakar nabati.
 
Saat ini PLN pun telah melaksanakan mandatori biodiesel atau campuran solar dan CPO pada pembangkit listrik eksisting berbasis diesel untuk mendukung pemerintah mengurangi impor BBM. Sesuai aturan pemerintah, PLN telah melaksanakan mandatori biodiesel 20 persen (B20) meningkat menjadi B30. Penggunaan B30 dinilai menciptakan emisi lebih besar 1,3 kali lipat dibanding penggunaan B20.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif