Kementerian Pertanian (Foto: Kementerian Pertanian)
Kementerian Pertanian (Foto: Kementerian Pertanian)

Kementan-FAO Dorong Peternak Unggas Terapkan Manajemen Biosecurity

Ekonomi pertanian kementerian pertanian
21 Juni 2019 14:02
Lampung: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mendorong agar para peternak unggas di Indonesia dapat menerapkan praktik manajemen yang baik atau biosecurity tiga zona.
 
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita menjelaskan penerapan biosecurity tiga zona sangat penting karena dapat mengendalikan penggunaan antimikroba pada unggas serta mengurangi risiko terjadinya penyakit infeksi.
 
"Hal ini dapat meningkatkan keuntungan bagi para peternak karena akan mengurangi risiko kematian khususnya dari virus flu burung," kata Ketut, seperti dikutip dari Antara, di Lampung, Jumat, 21 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun penerapan biosecurity tiga zona adalah praktik pengelolaan perunggasan yang baik dan berstandar dengan membagi area peternakan menjadi tiga, yakni zona merah, kuning dan hijau. Zona merah dikategorikan sebagai area dengan risiko tinggi (high risk) karena terindikasi adanya pencemaran kuman maupun bakteri.
 
Oleh karena itu, tamu yang tidak memiliki kontak dengan unggas, hanya bisa sampai pada zona ini saja. Setibanya di zona kuning (middle risk), peserta disediakan baju khusus untuk dikenakan selama berkeliling di peternakan tersebut. Di zona ini, pekerja harus mandi terlebih dahulu sebelum memasuki zona hijau.
 
Di zona hijau atau zona bersih dengan kategori low risk adalah area terbatas. Hanya pekerja yang ditugaskan dan sudah berganti pakaian dan alas kaki yang boleh masuk. Peternak juga harus disemprotkan cairan disinfektan saat memasuki area ini.
 
Ketut menjelaskan pengendalian virus flu burung difokuskan pada peningkatan biosecurity, pencegahan penyakit melalui vaksinasi, dan sertifikasi kompartemen bebas flu burung. Adanya sertifikat bebas penyakit tersebut membuat produk unggas Indonesia dapat diekspor ke beberapa negara.
 
Chief Technical Adviser Unit Khusus Badan Pangan dan Pertanian PBB di Indonesia (FAO ECTAD) Luuk Schoonman yang mengatakan hasil kajian FAO menunjukan bahwa implementasi biosecurity tiga zona secara rutin dan konsisten di peternakan ayam petelur secara signifikan menurunkan penggunaan antibiotik 40 persen dan disinfektan 30 persen.
 
"Biosecurity tiga zona harus menjadi standar di peternakan ayam petelur dalam menghasilkan produksi yang maksimal dan bebas dari penyakit zoonosa khususnya flu burung," kata Luuk.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif