Ilustrasi (MI/MOHAMAD IRFAN)
Ilustrasi (MI/MOHAMAD IRFAN)

Waskita Karya Bangun PLTSa di Bali

Ekonomi listrik pembangkit listrik energi listrik
Nia Deviyana • 24 Juli 2019 06:03
Jakarta: PT Waskita Karya (Persero) Tbk berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Bali. Pembangunan PLTSa sebagai tindak lanjut mewujudkan ketahanan energi nasional. Dalam membangun PLTSa, Waskita menggandeng PT Indonesia Power.
 
Penandatanganan Head of Agreement (HoA) dilakukan oleh President Director PT Waskita Karya (Persero) Tbk I Gusti Ngurah Putra dan President Director PT Indonesia Power Sripeni Inten Cahyani, pada 29 Januari 2019.
 
"Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) ini merupakan tindak lanjut dari proyek revitalisasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Sarbagita Suwung, Bali yang diperoleh Waskita pada 2017," ujar Senior Vice President Corporate Secretary Waskita Shastia Hadiarti, melalui keterangan resminya, Rabu, 24 Juli 2019.
 
Adapun pekerjaan yang sudah berjalan, meliputi pekerjaan persiapan, penutupan dan penataan TPA existing, pembangunan sanitary landfill baru, pematangan lahan PLTSa, optimalisasi instalasi pengolahan lindi (IPL) existing, infrastruktur pendukung, dan desain.
 
Pengembangan Proyek Instalasi Pengolahan Sampah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) ditargetkan beroperasi mulai 2021 dengan tahap konstruksinya dimulai pada tahun ini. "Proyek ini memiliki nilai investasi mencapai USD120 Juta dan dapat menampung 1.200 ton sampah per hari," imbuh Shastia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pengamat Ekonomi Energi dan Pertambangan Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menilai langkah Waskita membangun pembangkit di luar bisnis inti yang dijalani di sektor konstruksi menjadi langkah baik untuk mendukung ketahanan energi nasional.
 
"Langkah Waskita ini, juga sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo, untuk memaksimalkan semua potensi sumber energi yang  ada di dalam negeri, agar turut mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Fahmy.
 
Fahmy mengatakan pemerintah memang sudah memiliki rencana membangun PLTSa di 12 daerah. Bahkan, amanat bagi 12 kepala daerah itu sudah dituangkan ke dalam Peraturan Presiden (Perpres) 35/2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
 
"Tentu saja langkah Waskita membangun PLTSa, dengan sinergi BUMN, merupakan langkah tepat karena turut berkontribusi memperkuat ketahanan energi," ujar Fahmy.  
 
PLTsa adalah pembangkit listrik yang dihasilkan dari sampah menjadi gas methan (biomas). Teknologi PLTSa menggunakan pendekatan zero waste, sehingga sampahnya hilang setelah diubah menjadi biomas. Teknologi tersebut sudah diterapkan di banyak negara yang memenuhi standar emisi ramah lingkungan, yang dioperasikan di dalam kota.
 
"Nah, agar proyek PLTSa seperti yang akan dibangun Waskita, agar berjalan lancar, perlu dukungan dari pemerintah pusat. Untuk meringankan beban pemerintah daerah dan pengembang PLTSa, pemerintah pusat bisa memberikan incentives fiscal dan subsidi kepada pemerintah daerah dan pengembang PLTSa," lanjut Fahmy.
 
Fahmy menambahkan di tahap awal pengembangan pembangkit listrik dengan menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT) memang harus diberikan insentif fiskal dan subsidi agar volume produksi mencapai economics of scale  dan harga penjualan listrik bisa mencapai harga keekonomian.
 
"Namun, jangan pernah memberikan tarif incentive, karena akan memberatkan bagi PLN, yang ujung-ujungnya beban itu akan dibebankan kepada konsumen dalam bentuk kenaikkan tarif listrik," pungkas Fahmy.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif