Mendorong Generasi Milenial jadi Pengusaha Properti

Ade Hapsari Lestarini 21 Oktober 2018 13:35 WIB
propertibtn
Mendorong Generasi Milenial jadi Pengusaha Properti
Direktur Utama BTN Maryono saat membuka workshop bertajuk Property Entrepreneurship for Millenials Generation. Dok: BTN.
Jakarta: PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mendorong generasi milenial untuk menjadi pengusaha properti. Salah satunya aktif melakukan edukasi kepada mahasiswa dan pelajar di berbagai kampus dan sekolah di Indonesia.

"Kehadiran generasi milenial di industri properti sangat dibutuhkan, mereka dapat memberikan inovasi yang tepat untuk pengembangan dan pemasaran produk hingga akses pembiayaan untuk generasi yang kelak mendominasi 34 persen populasi masyarakat Indonesia pada 2020 nanti," ujar Direktur Utama BTN Maryono saat membuka workshop bertajuk Property Entrepreneurship for Millenials Generation di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 21 Oktober 2018.

Maryono mengatakan edukasi sangat penting dilakukan bagi generasi milenial agar mau terjun menggarap bisnis properti. Pasalnya, prospek investasi properti saat ini sangat menjanjikan. Hal ini seiring dengan maraknya pembangunan infrastruktur dan perkembangan transportasi massal yang menjangkau daerah pelosok hingga kota-kota besar di seluruh Indonesia.

"Kehadiran BTN di kampus, berdirinya Housing Finance Center untuk memberikan workshop, pelatihan dan pengembangan merupakan salah satu strategi kami meningkatkan jumlah pengusaha properti serta kualitas para developer," jelas Maryono.

Menurut Maryono, ada delapan alasan mengapa menjadi pengusaha properti menarik yaitu ketersediaan lahan yang terbatas membuat investor memegang kontrol, daya juang ketika berinvestasi sangat tinggi, nilai aset dapat ditingkatkan dengan modal minimum, mendapatkan capital gain dan cashflow, tidak menyita waktu, bank lebih suka  memberikan pinjaman dengan jaminan properti dan  investasi properti menjadi favorit investor besar/kaya.

Maryono optimistis para generasi milenial berpotensi sukses bergelut di sektor properti di Indonesia karena prospeknya yang cemerlang.

Maryono memaparkan ketertarikannya mengajak generasi milenial menjadi pengusaha properti, karena mereka diproyeksi menjadi tulang punggung ekonomi bangsa yang menentukan masa depan  Indonesia. Untuk itu, Maryono berharap generasi milenial melirik bisnis properti yang ceruknya masih besar dan belum tergarap maksimal.

Catatan BTN, selisih kebutuhan rumah dengan kapasitas pengembang masih lebar di Indonesia. Adapun kebutuhan rumah masih besar, yakni sebesar 800 ribu unit per tahun, sementara kapasitas pembangunan rumah para pengembang hanya sebesar 250 ribu hingga 400 ribu unit per tahun.

Minimnya pasokan membuat daya dorong sektor perumahan terhadap PDB Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2017 hanya mencapai 2,8 persen. Angka ini sangat rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia mencapai di atas 20 persen dan Thailand sebesar delapan persen.

"Padahal jika investasi properti meningkat kebutuhan rumah masyarakat terpenuhi dan setidaknya 170 industri turunan lainnya ikut terdongkrak dan banyak lapangan pekerjaan berkembang yang pada akhirnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi," urai Maryono.

Maryono menjelaskan, dalam bisnis properti terdapat sisi pasokan dan sisi permintaan yang keduanya harus diperhatikan. Karena itu, BTN tidak hanya mengembangkan pembiayaan perumahan untuk menangkap permintaan konsumen (demand) namun juga memperhatikan sisi pasokan.

BTN merangkul pengembang dengan pemberian kredit properti dan konstruksi dan pengembangan jumlah wirausaha. Jumlah wirausaha di Indonesia berdasarkan data Kementerian Koperasi  dan  UMKM  tergolong minim yaitu sebesar 7,8 juta orang dari sekitar 252 juta orang penduduk Indonesia.

Senada, Rektor IPB Arif Satria mengatakan pihaknya sudah mendeklarasikan diri sebagai technososio enterpreneurship yang akan menghasilkan technopreneurs dan sosiopreneur, dimana kedua hal ini membutuhkan tiga keahlian antara lain hard skill, soft skill dan ada yang sifatnya karakter.

"Ketika kita memiliki jiwa kewirausahan yang sangat kuat, maka kita dituntut untuk bisa lebih kreatif, di mana kompetisi tersebut berbasis adu kreativitas dan imajinasi," tegasnya.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id