Ilustrasi (Foto: Media Indonesia)
Ilustrasi (Foto: Media Indonesia)

Pengamat: Kesepakatan Perdagangan Indonesia-Australia Perkuat Ekspor

Ekonomi perdagangan ekonomi indonesia indonesia-australia
06 Maret 2019 12:02
Jakarta: Pengamat ekonomi Lana Soelistianingsih mengatakan kesepakatan baru perdagangan antara Indonesia-Australia bisa memberikan peluang peningkatan ekspor berbagai produk unggulan Indonesia. Hal itu nantinya bisa memberi efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih berkualitas di masa mendatang.
 
"Selama ini Australia bukan pasar yang mature buat Indonesia. Kurang dilihat. Dengan adanya IA-CEPA bisa jadi peluang," kata Lana, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Rabu, 6 Maret 2019.
 
Sebelumnya, Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/IA-CEPA) resmi disetujui kedua negara. Lana mengharapkan kerja sama perdagangan bebas ini bisa mendorong ekspor nonmigas yang selama ini belum sepenuhnya optimal ke Australia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Salah satu komoditas yang berpotensi meningkatkan kinerja ekspor adalah minyak sawit (CPO) yang selama ini menghadapi hambatan nontarif di berbagai negara. "Jangan sampai terulang kejadian perjanjian perdagangan bebas, setelah naskah kerja sama ditandatangani, justru aliran barang impor lebih kencang daripada ekspor," kata pengajar FE Universitas Indonesia ini.
 
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus ikut memberikan apresiasi atas tercapainya kesepakatan atas perundingan yang berlangsung selama sembilan tahun ini. Menurut dia kerja sama ini merupakan peluang untuk meningkatkan ekspor dari berbagai hasil industri pengolahan Indonesia.
 
Namun, ia mengingatkan adanya upaya untuk memperbaiki daya saing maupun kualitas produk Indonesia yang nantinya akan membanjiri pasar Australia. "Produk kita sudah cukup kompetitif belum di sana? Meskipun sudah diberikan keringanan tarif misalnya. Kalau kita lebih kompetitif, itu berarti bisa meningkatkan ekspor yang cukup signifikan," katanya.
 
Selain itu, tantangan lainnya adalah persyaratan Non-Tariff Measure (NTM), atau aturan-aturan non tarif yang ditetapkan oleh Australia untuk melindungi produk dalam negeri. "Itu justru yang menyulitkan negara-negara berkembang untuk masuk ke negara maju. Kita sudah bisa belum menghadapi NTM-nya? Itu yang jadi pekerjaan rumah," ujar Heri.
 
Pemerintah memastikan komitmen ini akan mengeliminasi 100 persen tarif barang asal Indonesia ke Australia dan 94 persen tarif barang Australia ke Indonesia. Dalam bidang investasi dan pelayanan, kedua negara juga akan saling memiliki akses lebih, salah satunya kepada pergerakan jasa bidang profesi.
 
Dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Rosan P Roeslani memprediksi penandatanganan IA-CEPA dapat meningkatkan ekspor ke Indonesia sekitar 17-19 persen per tahun.
 
"Selain itu, penurunan tarif bea masuk hingga nol persen dapat membuat produk Indonesia berdaya saing tinggi dengan produk impor lain di pasar Australia," pungkasnya.
 

(ABD)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif