Ilustrasi perkantoran. (FOTO: ANTARA/Pradita)
Ilustrasi perkantoran. (FOTO: ANTARA/Pradita)

Badai Pasar Perkantoran belum Mereda

Ekonomi perkantoran
11 April 2017 09:43
medcom.id, Jakarta: Kondisi pasar perkantoran Ibu Kota belum memperlihatkan prospek cerah. Suplai ruang kantor yang membanjir berbanding terbalik dengan permintaan yang lebih rendah.
 
Alhasil, tingkat okupansi di gedung-gedung perkantoran merosot. Dari data yang dilansir konsultan properti Colliers, hingga penghujung tahun ini, total ketersediaan ruang perkantoran di kawasan CBD Jakarta akan genap 6,22 juta m2. Jumlah itu membengkak 13,3 persen dari total pasokan di 2016.
 
"Itu dipicu dengan selesainya pembangunan sembilan gedung perkantoran yang akan menambah pasokan 620 ribu m2," ujar Senior Associate Director Research Colliers Ferry Salanto di Jakarta.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, pasokan ruang perkantoran di luar kawasan CBD meningkat tujuh persen dari tahun lalu menjadi 3,2 juta m2. Tambahan pasokan 170 ribu m2 berasal dari delapan gedung baru yang selesai dibangun.
 
Baca: 2015, Pasar Perkantoran Sentra Bisnis Jakarta Diprediksi Bakal Merekah
 
"Tambahan pasokan dari proyek-proyek besar akan memberikan tekanan lebih untuk tingkat okupansi dengan berusaha meningkatkan permintaan ruang perkantoran."
 
Kajian Colliers menunjukkan, di kuartal I-2017, rerata tingkat okupansi gedung perkantoran kawasan CBD 83,8 persen, atau turun dari kuartal sebelumnya, 85 persen. Pada kuartal I-2016, tingkat okupansi 88,6 persen. Meskipun perekonomian Indonesia diprediksi bertumbuh di tahun ini, tingkat okupansi diprediksi tidak akan meningkat.
 
"Bahkan, hingga akhir 2017 diperkirakan tingkat okupansi merosot di kisaran 78-79 persen," ramal Ferry.
 
Baca: Harga Sewa Perkantoran di Kawasan CBD Tumbuh 2%
 
Keterisian gedung perkantoran di luar CBD pada kuartal I lalu pun disebutnya juga memperlihatkan penurunan. Meski begitu, okupansi di kawasan TB Simatupang, justru naik menjadi 74,1 persen di kuartal I-2017 ketimbang kuartal sebelumnya.
 
Kondisi itu, jelasnya, dipicu ketiadaan gedung baru yang beroperasi di TB Simatupang pada kuartal I. "Keterbatasan pasokan perkantoran baru di TB Simatupang akan berlanjut sehingga berdampak pada peningkatan okupansi," kata dia.
 
Seiring dengan turunnya level keterisian gedung, harga sewa perkantoran di CBD memperlihatkan tren serupa dalam tiga kuartal terakhir. Bahkan, gedung yang baru beroperasi berani melakukan aksi banting harga agar lebih atraktif.
 
Rerata harga sewa perkantoran di CBD pada kuartal I 2017 ialah Rp295.729/m2/bulan, atau drop 14,4 persen dari kuartal I-2016. (Media Indonesia)
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif