Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital OJK Triyono (kanan). (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)
Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital OJK Triyono (kanan). (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)

46 Perusahaan Tercatat dalam Regulatory Sandbox di OJK

Ekonomi ojk fintech
Eko Nordiansyah • 19 Juli 2019 14:08
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ada 46 perusahaan yang tercatat dalam inovasi keuangan digital. Sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang financial technology (fintech) ini sedang diproses untuk memasuki uji regulatory sandbox.
 
Berdasarkan Peraturan OJK Nomor 13 Tahun 2018 tentang Inovasi Keuangan Digital di Sektor Jasa Keuangan, regulatory sandbox merupakan mekanisme pengujian untuk menilai keandalan proses bisnis, model bisnis, instrumen keuangan, dan tata kelola perusahaan.
 
"Ada 93 perusahaan yang masuk mengajukan permohonan, ini terdiri dari 65 permohonan pencatatan di batch 1 dan 28 di batch 2," kata Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital OJK Triyono di Kantor OJK, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Jumat, 19 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dirinya menambahkan, di batch 1 ada 34 perusahaan yang tercatat dan 23 sampel yang menjadi objek regulatory sandbox. Sedangkan ada 12 perusahaan tercatat dan 12 perusahaan yang masuk objek sampel regulatory sandbox di batch 2.
 
Triyono berharap kehadiran sejumlah fintech ini bisa menambah stabilitas dari sistem keuangan. Pasalnya akan semakin banyak masyarakat yang bisa mendapatkan manfaat dari kehadiran para fintech, sehingga basis konsumen (customer based) akan semakin besar.
 
"Karena customer based akan semakin besar dan ragam pelayanan jasa keuangan juga semakin banyak. Dengan sendirinya, diharapkan makin banyak pabrik atau masyarakat yang mengenyam pelayanan jasa keuangan dan juga mendapatkan manfaat positif," jelas dia.
 
Dalam regulatory sandbox, OJK tak hanya berdiskusi dengan para pelaku usaha, asosiasi, sampai para ahli. Upaya ini dilakukan agar OJK bisa mendapatkan masukan secara objektif sebelum menentukan regulasi kepada para pemain fintech yang ada.
 
"Kalau boleh kami ceritakan, proses panjang paling sulit adalah review assesment, di situlah banyak berdebat dengan pelaku industri. Bukan dalam rangka menghambat, tapi mengurangi risiko yang ada. Yang kami pentingkan perlindungan konsumen," pungkasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif