Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id)
Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id)

Generasi Milenial Paling Banyak Beri Pinjaman di Fintech Lending

Ekonomi fintech generasi milenial
Nia Deviyana • 26 Juni 2019 12:07
Jakarta: Berinvestasi di fintech Peer to Peer (P2P) Lending menjadi salah satu pilihan bagi investor pemula, khususnya generasi milenial. Umumnya dengan Rp100 ribu, sudah bisa berinvestasi di P2P lending.
 
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 30 April 2019, karakter pengguna fintech lendingmayoritas pemberi pinjaman atau lender dari kalangan milenial (usia 19-34 tahun), sebanyak 69,53 persen. Sisanya lender dari kalangan usia 35-54 tahun (27,26 persen), dan golongan usia lainnya.
 
Direktur Pengaturan, Perizinan dan Pengawasan OJK Hendrikus Passagi mengatakan Indonesia merupakan target pasar menggiurkan dari kegiatan fintech P2P lending. Dalam empat tahun terakhir, industri fintech P2P lending telah tumbuh berdasarkan total pinjaman dan penggunanya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hingga Mei 2019, terdapat 113 fintech P2P lending yang terdaftar di OJK. Tercatat total pinjaman dari fintech P2P lending sebesar Rp37 triliun dari 25,69 juta akun peminjam atau borrower yang bertransaksi dan 456.352 entitas lender. Lender mayoritas dari entitas dalam negeri yakni sebanyak 453.583 entitas, sisanya dari luar negeri 2.769 entitas. Mayoritas lender adalah perorangan yang terakumulasi, hanya 0,18 persen berupa badan usaha.
 
"OJK akan terus meningkatkan kualitas fintech P2P lending lewat mekanisme check dan monitoring. Salah satunya dengan mematok tingkat kredit bermasalah atau Non Performance Loan (NPL) dikisaran satu persen," tutur Hendrikus melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 26 Juni 2019.
 
Kepala Bidang Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Tumbur Pardede mengatakan fintech P2P lending merupakan suatu sistem (platform) yang mempertemukan pemberi pinjaman (lender) dengan peminjam (borrower). Dalam industri fintech lending, bukan hanya melulu soal orang meminjam uang atau borrower, juga ada investor yang memberikan pinjaman atau lender.
 
"Nah, para lender ini dapat diisi oleh para milenial yang ingin memulai berinvestasi. Fintech lending dapat diakses hanya melaluigadget yang terhubung dengan internet, pilihlah penyelenggara fintech lending yang legal atau terdaftar di OJK," kata Tumbur.
 
Perencana Keuangan dari Finansiaconsulting.com Eko Endarto menambahkan produk investasi di P2P lending bisa saja menjadi sarana investasi bagi para generasi milenial yang pendapatan bulanannya di kisaran Rp8 juta ke bawah.
 
Namun sebelum berinvestasi, investor milenial harus memahami potensi keuangannya sendiri, potensi keuntungan atau benefit dari produk investasi. Selain itu, investor milenial juga perlu memahami risiko-risikonya.
 
"Asalkan, mereka para generasi milenial sudah mengerti benar jenis produk investasi dan risiko yang menyertainya. Sebab bisa jadi likuiditasnya tidak tinggi," kata Eko.
 
Selain itu, investor milenial juga harus memperhatikan legalitas, karena di Indonesia fintech yang benar harus terdaftar di OJK. Kemudian, hendaknya mereka memerhatikan risikonya. Memang, investasinya murah, mudah, dan bisa membeli dengan imbal hasil yang tinggi, tetapi juga memiliki risiko yang tinggi. Ketiga, investor milenial harus memperhatikan kebutuhan untuk investasi.
 
"Investasi adalah jangka panjang, jadi tidak perlu mempertaruhkan jangka pendek dengan melakukan investasi. Kalau terlalu mempertahankan jangka pendek untuk jangka panjang, itu namanya spekulasi," pungkas Eko.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif