Kepala BPS Suhariyanto. FOTO: Medcom.id/Ilham Pratama Putra.
Kepala BPS Suhariyanto. FOTO: Medcom.id/Ilham Pratama Putra.

Tantangan Sinergi Data Pangan

Ekonomi pangan kementerian pertanian
Ilham Pratama Putra • 01 November 2019 15:11
Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) menggandeng Badan Pusat Statistik (BPS) dalam sinergi data pangan.
 
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengungkapkan beberapa tantangan yang akan mereka hadapi.
 
"Tantangannya untuk berkunjung ke lapangan. BPS pun tiap bulan mendatangi 219 ribu titik sawah. Kalau dia tidak datang dalam radius 10 meter persegi tidak bisa," kata Suhariyanto, di kantor BPS, Jakarta Pusat, Jumat, 1 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Setelah melihat sawah untuk komoditas padi, BPS terus mengembangkan pemantauan data pangan lainnya seperti jagung. Bahkan pihaknya juga berkoordinasi dengan Kemenko Perekonomian untuk membuat peta jalan kelapa sawit.
 
Pihaknya mengaku telah melakukan pemantauan sejak Oktober 2018 sebanyak 16 provinisi untuk data pangan ini. BPS menargetkan data akan lengkap pada Januari 2020.
 
"Tapi itu luas lahan baku dulu, jadi pekerjaan ini dibagi dua bagian besar untuk penentuan luas lahan baku sawah ada di Kementerian ATR, BIG, dan Lapan karena mereka yang paling paham," tambah dia.
 
Untuk selanjutnya, kata Suhariyanto, menteri ATR mengeluarkan data luas lahan baku terkini termasuk pencetakan lahan baru. Data itu yang akan digunakan BPS sebagai peta produksi.
 
"Tapi intinya kita berenam. Akan duduk bersama, untuk kerja bagi negara, saling mengumpulkan kekuatan," jelasnya.
 
BPS melakukan kerja sama dengan Kementan, BIG, LAPAN, BNPT, dan Kementerian ATR/BPN. Satu data pangan diharapkan mampu menyelaraskan data komoditas pangan antara satu institusi dengan institusi lainnya. Sehingga tak ada lagi klaim sepihak surplus produksi nasional.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif